IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Rupiah Menguat 0,80% Sepekan, Pasar Antisipasi Keputusan RDG BI

Tampilan layar grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat di pasar keuangan
Nilai tukar Rupiah menguat 0,80 persen dalam sepekan terakhir di pasar spot.

JAKARTA, Gonesia.com – Tren penguatan nilai tukar rupiah terus berlanjut hingga akhir pekan ini dengan mencatatkan performa positif selama empat hari berturut-turut di pasar spot.

Data perdagangan menunjukkan bahwa pada Jumat (17/7/2026), mata uang Garuda berhasil menguat sebesar Rp 65 atau sekitar 0,36 persen ke level Rp 17.921 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pencapaian ini sekaligus menandai akumulasi penguatan sebesar 0,80 persen dalam sepekan terakhir, setelah sempat tertekan di posisi Rp 18.065 per dolar AS pada Jumat pekan sebelumnya.

Sejalan dengan kondisi di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menunjukkan tren serupa dengan apresiasi sebesar Rp 97 atau 0,54 persen ke posisi Rp 17.944 per dolar AS.

Secara mingguan, kurs Jisdor telah mencatatkan penguatan sebesar 0,69 persen dibandingkan posisi pada akhir pekan lalu yang berada di angka Rp 18.069 per dolar AS.

Produksi Rokok Melonjak, Simak Prospek Kinerja Emiten di Sisa 2026

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa lonjakan nilai tukar rupiah didorong oleh masuknya aliran modal asing ke instrumen pasar keuangan domestik.

“Rupiah ditutup menguat cukup tajam ke level Rp 17.910 per dolar AS oleh dukungan kembali masuknya dana asing baik di obligasi maupun ekuitas,” ujar Lukman kepada Kontan, Sabtu (18/7/2026).

Ia menambahkan bahwa sentimen eksternal turut memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas mata uang nasional.

Menurutnya, pelemahan indeks dolar AS (DXY) serta tren penurunan harga minyak mentah dunia menjadi katalis positif yang memperkuat posisi rupiah di pasar global.

Memasuki pekan depan, pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus pada agenda kebijakan moneter domestik yang krusial.

Strategi Investasi Saat Pasar Saham Tertekan di Tengah Sentimen Global

Pasar saat ini tengah mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21 hingga 22 Juli 2026 mendatang.

Lukman memproyeksikan adanya kemungkinan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut dianggap perlu diambil sebagai upaya preventif untuk melindungi rupiah dari tekanan volatilitas pasar.

Selain faktor kebijakan moneter, perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah diprediksi masih akan menjadi variabel utama yang memengaruhi pergerakan mata uang dunia.

Kendati demikian, ia optimistis bahwa fundamental domestik yang menunjukkan perbaikan akan terus menopang ketahanan rupiah di tengah ketidakpastian global.

Indonesia Tawarkan Proyek PLTS 100 GW kepada Investor Cina

Untuk perdagangan hari Senin (20/7/2026), ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cukup sempit.

Nilai tukar rupiah diprediksi akan berada di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

Stabilitas yang terjaga ini diharapkan mampu memberikan kepercayaan diri bagi para investor untuk tetap mempertahankan aset mereka di pasar keuangan Indonesia.

Komentar