IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Daftar Saham Emiten Batubara yang Beralih ke Sektor Energi Hijau

Gedung perkantoran PT Indika Energy Tbk di Jakarta sebagai emiten yang menjajaki divestasi aset batubara.
PT Indika Energy Tbk dikabarkan tengah menjajaki opsi divestasi anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung.

Jakarta, Gonesia.com – PT Indika Energy Tbk (INDY) dikabarkan tengah menjajaki opsi divestasi strategis atas anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung, dengan potensi nilai transaksi melampaui US$ 1 miliar atau sekitar Rp 18,1 triliun.

Langkah korporasi ini mencerminkan tren masif di kalangan emiten pertambangan batubara nasional yang tengah berakselerasi melakukan diversifikasi bisnis menuju sektor energi bersih.

Sumber Bloomberg menyebutkan bahwa diskusi mengenai pelepasan aset pertambangan tersebut masih berada dalam tahap pembahasan awal.

Hingga saat ini, manajemen INDY maupun pihak Kideco belum memberikan pernyataan resmi atau konfirmasi terkait rumor divestasi tersebut.

Strategi diversifikasi INDY sendiri sebenarnya telah terlihat jelas melalui pembangunan ekosistem kendaraan listrik yang komprehensif.

Rupiah Menguat, Pasar Cermati Kebijakan The Fed Hari Ini

Perusahaan tersebut kini merambah pasar motor listrik melalui merek ALVA dan penyediaan armada kendaraan komersial lewat Kalista serta INVI.

Di luar sektor energi hijau, INDY juga tengah memacu pengembangan Proyek Tambang Emas Awak Mas yang dijadwalkan memulai komersialisasi pada awal 2027.

Langkah serupa juga diambil oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang kini fokus pada pengembangan tiga proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas total mencapai 140 megawatt.

Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) telah melakukan langkah berani dengan melakukan pemisahan bisnis batubara termal ke entitas PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) turut menunjukkan komitmen serupa dengan melepas aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pada tahun lalu demi memperkuat portofolio energi terbarukan.

Realisasi Capex ANJT Capai 73,5%, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa diversifikasi ini bukan berarti batubara kehilangan nilai ekonomisnya.

“Industri ini memasuki fase mature, sehingga perusahaan mulai memanfaatkan cash flow dari batubara untuk membangun mesin pertumbuhan baru,” ujar dia, Kamis (16/7/2026).

Ia menambahkan, transisi energi global dan pengetatan regulasi lingkungan menjadi faktor pendorong utama bagi emiten untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas fosil.

Pengamat Pasar Modal, Kiswoyo Adi Joe, menilai upaya diversifikasi ini krusial untuk menjaga kepercayaan dari lembaga keuangan internasional.

Namun, ia menekankan bahwa proses transisi tersebut harus dilakukan secara bertahap agar tidak mengguncang stabilitas pendapatan utama perusahaan.

BEI Perbarui Aturan Saham HSC, IHSG Diproyeksi Tembus 7.000

“Aset-aset pertambangan tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi emiten batubara di tengah agenda diversifikasi,” imbuh dia, Kamis (16/7/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyoroti tantangan besar dalam investasi energi terbarukan yang membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang panjang.

“Selain itu, divestasi aset batubara terlalu dini sebelum EBT siap berkontribusi berisiko menciptakan funding gap yang signifikan,” tutur dia, Kamis (16/7/2026).

Ke depan, para analis merekomendasikan emiten untuk lebih agresif mencari sumber pendanaan berbiaya rendah seperti green financing dan sustainability-linked loan.

Investor pasar modal saat ini disarankan untuk mencermati pergerakan saham emiten yang melakukan diversifikasi seperti INDY, DSSA, dan ADRO karena prospek jangka panjangnya.

Komentar