JAKARTA, Gonesia.com – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau US Dollar Index (DXY) kembali tertekan pada perdagangan Rabu (15/7/2026), yang secara langsung memberikan ruang bagi penguatan nilai tukar rupiah di pasar spot.
Data Trading Economics mencatat indeks dolar AS merosot ke level 100,96 pada pukul 18.21 WIB.
Dinamika pelemahan tersebut mendorong rupiah menguat signifikan hingga menyentuh level Rp 18.068 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia turut mengonfirmasi apresiasi tersebut ke level Rp 18.064 per dolar AS.
Meski tren pelemahan dolar terlihat dominan, para analis pasar memperingatkan bahwa mata uang Negeri Paman Sam tersebut masih memegang peranan krusial sebagai aset safe haven.
Analis mata uang sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menyatakan bahwa posisi dolar AS kini mengalami pergeseran fungsi yang mendasar di mata para pelaku pasar global.
“Dolar AS tidak lagi ideal sebagai instrumen untuk mengejar imbal hasil tinggi, melainkan lebih berperan sebagai instrumen diversifikasi dan perlindungan risiko,” ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (15/7/2026).
Dia menambahkan, perubahan perilaku investor terhadap dolar AS sangat bergantung pada arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global ke depan.
Apabila inflasi AS melandai secara konsisten, ia memprediksi indeks dolar berpotensi meluncur turun lebih dalam menuju area 97,70 hingga 99,00 dalam tren jangka menengah.
Namun, ia juga memberikan catatan penting mengenai potensi pembalikan arah jika skenario ekonomi dunia memburuk secara tiba-tiba.
“Jika perlambatan inflasi AS ternyata diikuti oleh resesi ekonomi global, investor akan kembali memburu dolar sebagai penyelamat risiko (risk-off sentiment),” katanya.
Di sisi lain, Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menegaskan bahwa pelemahan dolar saat ini kemungkinan besar hanyalah fenomena sementara yang belum mencerminkan tren jangka panjang.
Dia menekankan bahwa ketahanan ekonomi AS dan sikap hawkish dari bank sentral Federal Reserve tetap menjadi jangkar utama bagi kekuatan dolar.
“Saat ini, probabilitas reversal jangka panjang masih rendah karena ekonomi AS masih resilien dan The Fed tetap bersikap hawkish,” ujar dia.
Ia juga memperingatkan investor domestik untuk bersikap hati-hati dan tidak terburu-buru dalam menyimpulkan bahwa pelemahan dolar akan bertahan dalam kurun waktu yang lama.
Selain faktor eksternal, tantangan bagi penguatan rupiah juga datang dari sisi domestik yang kerap disorot oleh lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings dan Moody’s.
Isu terkait tata kelola fiskal dan transparansi menjadi faktor yang dinilai masih membatasi potensi penguatan rupiah secara maksimal di pasar internasional.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurrahman memberikan apresiasi terhadap langkah Bank Indonesia dalam merespons gejolak nilai tukar.
Menurutnya, otoritas moneter Indonesia telah melakukan langkah-langkah defensif yang cukup agresif untuk menjaga stabilitas pasar.
“Di negara berkembang, Bank Indonesia tergolong agresif secara defensif. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada koordinasi dengan kebijakan fiskal, pengelolaan devisa, dan perbaikan fundamental transaksi berjalan,” tutur dia.
Ia menambahkan, stabilitas mata uang nasional ke depan akan sangat ditentukan oleh kombinasi kebijakan moneter dan penguatan fundamental ekonomi secara menyeluruh.
Koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama agar rupiah mampu bertahan di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang terus berubah.


