IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

S&P Pertahankan Rating Indonesia, IHSG Tunggu Aliran Dana Asing Kembali

Papan layar elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia
IHSG menguat setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB.

JAKARTA, Gonesia.com – Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil pada Rabu (15/7) memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merespons langkah lembaga pemeringkat internasional tersebut dengan menguat dan bertahan di atas level psikologis 6.000.

Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa pemulihan pasar saham nasional saat ini masih bersifat rapuh.

Stabilitas pasar belum sepenuhnya kokoh lantaran belum diikuti oleh penguatan nilai tukar rupiah yang signifikan.

Arus modal asing pun terpantau belum kembali masuk ke pasar domestik secara masif pasca pengumuman rating tersebut.

Abadi Lestari (RLCO) Realisasikan Dana IPO Rp 57,7 Miliar untuk Operasional

Riset dari PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT Henan Putihrai Asset Management menyebut respons pasar terhadap keputusan S&P adalah sinyal positif paling jelas yang muncul sejak awal tahun.

Walaupun demikian, penguatan harga saham yang terjadi dinilai belum mencerminkan berakhirnya tekanan struktural di pasar modal Indonesia.

Para pelaku pasar kini tengah mencermati sejumlah agenda krusial yang berpotensi menjadi penentu arah pasar hingga pengujung tahun.

Agenda tersebut meliputi masa probasi Indonesia oleh MSCI yang berlangsung hingga November mendatang.

Selain itu, investor juga menantikan status watchlist dari S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) serta FTSE Annual Review pada Oktober.

RAJA dan RMKE Stock Split 1:5, Simak Rekomendasi dan Target Harga

Terdapat perbedaan mendasar yang perlu dipahami investor terkait penilaian lembaga pemeringkat kredit dan penyedia indeks global.

S&P Global Ratings lebih berfokus pada kemampuan pemerintah dalam mengelola fiskal, moneter, serta kapasitas pemenuhan kewajiban utang.

Di sisi lain, MSCI, FTSE Russell, dan S&P DJI menitikberatkan penilaian pada aspek aksesibilitas pasar modal bagi investor global.

Akibat perbedaan fokus tersebut, keputusan positif dari S&P tidak otomatis menjamin peningkatan aliran modal asing ke pasar saham.

Kondisi ini terkonfirmasi dari nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp 18.131 per dolar Amerika Serikat.

Rating S&P Tetap Stabil, Mengapa Rupiah Justru Tembus Rp 18.000?

Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prasyarat utama sebelum pemulihan pasar yang sehat dapat terwujud.

Kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang kondusif juga menjadi faktor pendukung yang sangat dinantikan untuk menarik kembali dana asing.

“Selama rupiah belum stabil dan arus asing belum benar-benar kembali, penguatan ini masih rentan kehilangan momentum,” tulis riset tersebut.

S&P Global Ratings juga mengingatkan bahwa ketidakpastian implementasi kebijakan tetap memiliki risiko terhadap kepercayaan investor.

Lembaga ini menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang berada dalam kondisi krisis kredit karena pemerintah dinilai memiliki komitmen kuat dalam memenuhi kewajiban finansialnya.

Untuk mencapai fase pemulihan yang lebih kuat, pasar saham Indonesia diperkirakan masih membutuhkan kenaikan sekitar 19,7% dari posisi saat ini.

S&P mencatat bahwa tekanan fiskal, pelemahan nilai tukar, serta penyusutan kapitalisasi pasar hingga 30% sepanjang semester I-2026 merupakan tantangan nyata.

Namun, fundamental ekonomi dianggap masih kuat dengan pertumbuhan ekonomi riil yang mencapai 5,6% pada kuartal I-2026.

Pemerintah juga mencatatkan kinerja positif lewat peningkatan penerimaan negara sebesar 21% sepanjang semester I-2026.

Komitmen untuk menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% terhadap PDB menjadi poin penting yang menjaga keyakinan lembaga pemeringkat.

Ke depan, kenaikan harga komoditas dan efisiensi belanja negara diharapkan mampu memperbaiki kondisi fiskal secara bertahap.

Komentar