Jakarta – Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai menyusun rencana perombakan besar-besaran terhadap kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, yang mencakup penataan ulang kawasan Hotel Sultan. Proyek ini bertujuan mentransformasi area tersebut menjadi ikon nasional baru berstandar internasional yang terintegrasi.
Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa perubahan fungsi dan bentuk kawasan tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan jangka panjang. Ia tidak menepis kemungkinan bahwa bangunan Hotel Sultan yang ada saat ini akan dibongkar guna menyesuaikan dengan konsep desain kawasan yang baru.
“Rencananya akan dijadikan ikon baru di Indonesia. Pada saat ini mungkin saya belum bisa mengatakan, tapi rencana itu (merobohkan) akan dijadikan suatu kawasan baru, eventually iya,” ujar Rosan saat ditemui di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (22/6).
Dalam skema penataan ulang tersebut, Danantara akan menggandeng sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni InJourney dan Meru Hotel. Keterlibatan pihak-pihak tersebut akan dilakukan segera setelah proses finalisasi administrasi dan legalitas di Kementerian Sekretariat Negara dituntaskan.
Meskipun terdapat rencana perombakan total, Rosan memastikan bahwa fungsi perhotelan tetap dipertahankan di dalam kawasan GBK. Namun, operasional hotel nantinya tidak lagi bertumpu pada satu bangunan fisik seperti saat ini, melainkan akan diintegrasikan dengan format baru yang lebih modern dalam cakupan area seluas 279 hektare tersebut.
Selain sektor perhotelan, penataan menyeluruh ini juga akan menyasar fasilitas olahraga, lapangan golf, serta pengembangan area penunjang lainnya. Fokus utama transformasi ini adalah mengarahkan kawasan GBK menjadi pusat sport tourism atau pariwisata olahraga yang mampu menarik minat wisatawan mancanegara secara signifikan.
Langkah ini diambil pemerintah sebagai upaya konkret untuk memperkuat sektor pariwisata nasional. Danantara mencatat bahwa Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, baik dari segi volume kunjungan wisatawan maupun rata-rata nilai belanja per orang.
“Memang kalau kita lihat jumlah pariwisata di Indonesia, dibandingkan negara-negara ASEAN, masih tertinggal cukup lumayan jauh,” ungkap Rosan.
Melalui pengembangan kawasan GBK yang berstandar dunia, pemerintah menargetkan peningkatan daya saing Indonesia di pasar pariwisata global. Dengan mengintegrasikan fasilitas olahraga, ekonomi, dan akomodasi dalam satu kawasan ikonik, diharapkan durasi tinggal dan nilai belanja wisatawan dapat meningkat, sekaligus menutup kesenjangan performa pariwisata Indonesia dengan negara-negara tetangga. Proyek ini diproyeksikan tidak hanya mempercantik wajah ibu kota, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam mendongkrak pendapatan negara dari sektor pariwisata di masa mendatang.

