Washington – Amerika Serikat mengancam akan memberlakukan tarif atau pungutan di Selat Hormuz jika kesepakatan damai dengan Teheran tak tercapai dalam 60 hari. Selama masa gencatan senjata dan negosiasi berlangsung, jalur penting perdagangan minyak dunia itu disebut tidak akan dikenai biaya.
Donald Trump menyampaikan pernyataan itu melalui Truth Social. Dalam unggahannya, ia menulis bahwa tidak akan ada “pungutan tol” setelah 60 hari berakhir, kecuali bila kebijakan tersebut diberlakukan untuk Amerika Serikat apabila kesepakatan gagal dicapai. Trump juga menyebut pungutan itu sebagai kompensasi atas layanan yang ia gambarkan sebagai peran “Malaikat Pelindung” bagi negara-negara Timur Tengah, baik untuk biaya di masa lalu, saat ini, maupun yang akan datang.
Pernyataan tersebut menunjukkan Washington mengaitkan rencana tarif itu dengan keterlibatan militer AS dalam menjaga keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi urat nadi distribusi energi global karena dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Di tengah ketegangan itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Selat Hormuz telah kembali terbuka. Ia menyebut pergerakan minyak dalam jumlah besar terjadi dalam 24 jam terakhir.
Klaim itu bertolak belakang dengan pernyataan pihak militer Iran. Melalui komando Khatam al-Anbiya, Teheran menuding Amerika Serikat tidak memenuhi komitmen dalam kesepakatan awal dan menilai gencatan senjata telah dilanggar. Iran juga menyampaikan rencana untuk menutup kembali jalur tersebut.
Militer AS sendiri membantah adanya penutupan ulang Selat Hormuz.

