Jakarta – Masuknya dana senilai 1,5 miliar dolar AS ke Danantara dinilai menjadi penanda bahwa Indonesia mulai dipandang memiliki lembaga investasi baru yang bankable dan layak menarik modal global. Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, menyebut capaian itu bukan sekadar urusan pendanaan, tetapi juga sinyal kepercayaan dunia terhadap arah ekonomi Indonesia.
Menurut Iswadi, dana dalam jumlah besar tersebut berpotensi memberi efek langsung terhadap ketahanan eksternal Indonesia. Ia menilai tambahan itu dapat memperkuat cadangan devisa sekaligus menjadi penyangga bagi stabilitas rupiah saat ekonomi global masih bergejolak.
“Keberhasilan ini juga bisa mendorong keterlibatan lebih luas dari perbankan dan investor swasta dalam pembiayaan proyek strategis nasional lewat skema co-investment,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu 17 Juni 2026.
Ia menegaskan, obligasi Danantara yang mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat mencerminkan besarnya minat pasar. “Itu seperti jas hujan di tengah ketidakpastian global,” kata Iswadi, menggambarkan kondisi tersebut.
Iswadi menafsirkan tingginya animo investor sebagai bentuk vote of confidence terhadap Indonesia. Dunia, katanya, kini melihat Danantara sebagai mesin investasi baru yang menjanjikan.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan berikutnya justru lebih berat. Menurut dia, persoalan utama Danantara bukan lagi mengumpulkan dana, melainkan memastikan dana yang sudah dihimpun benar-benar berubah menjadi proyek produktif.
“Yang harus dibuktikan ke depan adalah bagaimana dana itu diwujudkan menjadi infrastruktur yang produktif, seperti bendungan, pembangkit listrik tenaga surya, pusat data, rumah sakit, dan proyek strategis lainnya,” ujarnya.
Jika pengelolaan itu berhasil, lanjut Iswadi, dana 1,5 miliar dolar AS yang masuk hari ini bisa menjadi pemicu investasi yang jauh lebih besar di masa depan.
Ia menambahkan, langkah Danantara dapat menjadi tonggak penting dalam transformasi ekonomi Indonesia menuju negara tujuan investasi global yang semakin diperhitungkan.
“Kalau momentum ini dijaga dengan tata kelola yang baik dan investasi yang produktif, Indonesia bukan hanya dikenal sebagai negara peminjam dana, tetapi sebagai tujuan utama investasi dunia,” kata Iswadi.

