Jakarta – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mematangkan pengembangan bahan bakar alternatif Bobibos. Produk inovasi anak bangsa yang memanfaatkan limbah jerami padi ini, kini memasuki tahap uji kelayakan sebelum dipasarkan secara luas.
Ditjen Migas memanggil PT Inti Sinergi Formula, selaku produsen Bobibos, untuk membahas lebih lanjut rencana pengujian laboratorium serta memastikan standar dan klasifikasi produk.
“Pemanggilan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya, untuk mematangkan rencana pengujian laboratorium serta memastikan standardisasi dan klasifikasi produk sebelum dipasarkan atau digunakan secara luas,” ujar Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Noor Arifin Muhammad, seperti dikutip dari keterangan tertulis.
Dalam prosesnya, Ditjen Migas meminta Bobibos segera menjalani serangkaian pengujian untuk menentukan kategorinya, apakah termasuk bahan bakar nabati (BBN) atau bahan bakar minyak (BBM).
Seluruh pengujian teknis akan dilakukan oleh Lemigas sesuai prosedur yang berlaku. “Kami minta Bobibos proaktif menindaklanjuti langkah-langkah teknis ini agar prosesnya akuntabel,” tegas Noor.
Tahapan awal pengujian meliputi pengambilan sampel bahan bakar di tangki penyimpanan menggunakan standar internasional ASTM D4057. Hasil uji ini akan menjadi dasar penilaian kelayakan produk sebelum dipasarkan ke masyarakat.
PT Inti Sinergi Formula menyatakan kesiapannya untuk mengikuti seluruh proses pengujian sesuai ketentuan. Sebelumnya, perusahaan telah melakukan identifikasi internal dan menemukan bahwa spesifikasi produk Bobibos belum sepenuhnya memenuhi parameter standar, baik untuk kategori BBN maupun BBM.
Apa itu Bobibos?
Bobibos adalah bahan bakar alternatif berbasis nabati yang dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula. Akronim dari “Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!”, produk ini menggunakan limbah jerami padi sebagai bahan baku utama dan dikembangkan di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Bobibos mulai dikenal publik sejak akhir 2025 setelah viral karena diklaim memiliki nilai oktan (RON) hingga 98, setara dengan BBM berkualitas tinggi.
Inovasi ini digagas oleh Chief Executive Officer PT Inti Sinergi Formula, Ikhlas Thamrin, yang menyebut pengembangan Bobibos berawal dari pemanfaatan sumber daya lokal.
Ikhlas mengungkapkan bahwa ide pengembangan bahan bakar ini telah dirintis sejak satu dekade lalu dan semakin dipercepat di tengah isu kelangkaan serta tingginya harga BBM di Indonesia.
Dari riset yang dilakukan sejak 2014, ia melihat potensi besar limbah pertanian untuk diolah menjadi energi ramah lingkungan.
“Padi merupakan komoditas pangan yang sangat dibutuhkan. Sisanya, yakni jerami, bisa kami pakai untuk bahan baku Bobibos,” jelasnya.
Seluruh proses riset dan pengembangan dilakukan di dalam negeri. Hingga kini, produksi Bobibos masih dalam tahap terbatas sambil menunggu izin produksi massal dari pemerintah.
Perusahaan telah memproduksi sekitar 3.000 liter yang diluncurkan pada November 2025, dengan uji coba penggunaan yang masih difokuskan untuk kebutuhan industri di sekitar wilayah Jonggol.

