Banda Aceh – Upaya pemulihan infrastruktur telekomunikasi di Aceh menunjukkan kemajuan signifikan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo) mencatat, lebih dari 80% menara Base Transceiver Station (BTS) di provinsi tersebut telah kembali beroperasi setelah terganggu akibat bencana.
Angka ini melonjak drastis dibandingkan pertengahan Desember lalu, yang mana pemulihan baru mencapai sekitar 45%.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan pentingnya pemerataan pemulihan di seluruh wilayah Aceh. Ia meminta operator telekomunikasi untuk memprioritaskan daerah-daerah yang tingkat pemulihannya masih rendah, seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Dari total 23 kabupaten/kota di Aceh, 20 di antaranya telah mencapai tingkat pemulihan di atas 50%. Secara keseluruhan, 3.414 menara telah dipulihkan dari total 975 yang mengalami gangguan.
Kominfo juga melaporkan kemajuan pemulihan infrastruktur telekomunikasi di provinsi lain yang terdampak bencana. Sumatera Barat mencatat angka pemulihan mencapai 99,14%, sementara Sumatera Utara mencapai 97,35%.
Meutya menekankan bahwa konektivitas telekomunikasi sangat krusial dalam penanganan bencana. Jaringan komunikasi memegang peranan penting dalam upaya penyelamatan, koordinasi bantuan, penyediaan layanan darurat, serta pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Meskipun demikian, pemulihan di Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Gayo Lues masih menghadapi tantangan akibat kondisi geografis yang sulit. Pemerintah terus berupaya untuk mengatasi kendala ini demi memastikan seluruh masyarakat Aceh terhubung kembali.
Sebelumnya, pada akhir November lalu, Kominfo mencatat lebih dari 2.400 menara mengalami gangguan di tiga provinsi terdampak banjir Sumatera. Selain menara BTS, jaringan listrik juga terdampak, dan PT PLN (Persero) terus berupaya memulihkan pasokan listrik di wilayah-wilayah terdampak.


