Jakarta – Setiap 24 Desember, dunia memperingati berbagai peristiwa penting dan bersejarah. Tanggal ini identik dengan Malam Natal, Hari Ulang Tahun (HUT) Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya), Gencatan Senjata Natal, Hari Belanja Menit Terakhir, dan tragedi bom gereja di Indonesia.
Malam Natal menandai puncak masa Adven, empat minggu sebelum Natal. Gereja-gereja merayakan berakhirnya Adven dengan kebaktian tengah malam. Tradisi ini berasal dari liturgi Kristen yang dimulai saat matahari terbenam, berdasarkan kisah penciptaan. Masyarakat Eropa percaya hewan dapat berbicara pada hari ini, sementara Skandinavia meyakini anggota keluarga yang meninggal akan berkunjung. Ikon Malam Natal adalah Santa Claus yang membagikan hadiah.
Pada 24 Desember 1949, terjadi penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Indonesia, menandai lahirnya Kodam Jaya. Kolonel Vries menyerahkan kekuasaan kepada Letkol R. Paswin Nata Diningrat. Organisasi militer ini awalnya bernama Basis Co Jakarta Raya, kemudian berganti nama menjadi Komando Militer Pangkalan Jakarta Raya (KMP Jakarta Raya) pada Januari 1950.
Gencatan Senjata Natal terjadi pada 1914 di Front Barat Perang Dunia I. Kondisi perang yang buruk mendorong tentara menghentikan peperangan sementara. Sejarawan Martin Gilbert mencatat, gencatan senjata ini adalah inisiatif prajurit biasa. Pasukan Jerman menggantungkan lentera dan menyanyikan lagu Natal. Keesokan harinya, mereka saling berjabat tangan dan bertukar hadiah.
Hari Belanja Menit Terakhir bermula dari buku Charles Dickens, "A Christmas Carol," yang menekankan pentingnya beramal. Masyarakat Amerika mulai memberikan hadiah sebagai bagian dari amal. Pada abad ke-20, musim Natal menjadi lebih sekuler, dengan orang-orang membeli barang karena takut ketinggalan.
Tragedi bom gereja terjadi pada Malam Natal 22 tahun silam. Bom meledak di luar gereja di Jakarta dan lima kota lainnya, menewaskan 14 orang dan melukai puluhan lainnya. Kepala Menteri Keamanan Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono memperingatkan kemungkinan lebih banyak pemboman. Presiden Indonesia saat itu, Abdurrahman Wahid mengatakan bom tersebut merupakan upaya untuk menggoyahkan pemerintahannya.


