Amerika Serikat – Wall Street ditutup bergerak tak serempak pada perdagangan Kamis (24/9), saat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS menahan laju saham dan kembali memanaskan kekhawatiran soal suku bunga yang bertahan tinggi. Tekanan paling besar datang dari Treasury AS yang sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade.
Dow Jones ditutup melemah 161,61 poin atau 0,31% ke 51.349,98. S&P 500 turun tipis 0,02% menjadi 7.704,13. Di sisi lain, Nasdaq Composite justru naik sangat tipis 0,01% ke 26.939,37.
Sentimen pasar kemudian sempat membaik setelah muncul kabar bahwa negosiator Amerika Serikat dan Iran di New York tengah menjajaki kesepakatan bertahap untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Dalam rancangan itu, Iran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz, sedangkan AS akan mencabut blokade ekonomi terhadap Teheran.
Namun, perbaikan itu tidak bertahan lama. Harga minyak dan imbal hasil obligasi tetap berada di level tinggi, sehingga tekanan terhadap pasar saham belum benar-benar mereda.
Pendiri Evertern Wealth, Jason Stephens, menilai ekonomi AS yang masih kuat justru memperpanjang kekhawatiran inflasi dan menjaga ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
“Ekonomi terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa, tetapi kekuatan tersebut membuat kekhawatiran terhadap inflasi tetap hidup dan mendorong suku bunga lebih tinggi,” kata Stephens, dikutip dari CNBC, Jumat (25/9).
Ia menambahkan, pasar obligasi kini menjadi salah satu indikator paling penting untuk dicermati. Menurut dia, pertanyaan utama di pasar bukan lagi apakah Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lagi, melainkan berapa lama suku bunga tinggi akan dipertahankan.
Stephens juga menyoroti dampak imbal hasil Treasury 10 tahun yang bertahan di atas 5% terhadap perumahan, pembiayaan korporasi, pasar swasta, hingga valuasi saham. Di saat yang sama, sektor energi dinilai berpotensi menjadi penentu arah pergerakan pasar berikutnya.
Kenaikan harga minyak akibat perkembangan konflik Timur Tengah, kata dia, dapat memicu kembali tekanan inflasi dan memengaruhi prospek kebijakan moneter.
“Situasi pasar saat ini menghadapi kontradiksi yang menarik. Investor mengkhawatirkan suku bunga karena data ekonomi kuat, bukan karena ekonomi sedang runtuh,” ujarnya.
Di pasar komoditas, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global naik lebih dari 3% dan ditutup di atas US$ 106 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,7% menjadi US$ 94,61 per barel.
Sementara di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun naik ke 5,501%, level tertinggi sejak Juni 2004. Imbal hasil Treasury 10 tahun yang menjadi acuan banyak suku bunga, termasuk kredit pemilikan rumah (KPR), melonjak ke 5,223% dan menjadi yang tertinggi sejak Juni 2007. Adapun imbal hasil Treasury 2 tahun naik ke 4,941%.
Kenaikan imbal hasil itu ikut mendorong ekspektasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Berdasarkan CME FedWatch, kontrak berjangka Fed Funds menunjukkan probabilitas hampir 71% bahwa bank sentral Amerika Serikat itu akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober. Angka tersebut naik dari sekitar 55% sepekan sebelumnya.


