IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Suku Bunga Naik Buka Peluang Investasi, Cicilan Mengintai

Suku bunga tinggi jadi peluang investasi, waspadai beban cicilan

Jakarta – Tren suku bunga tinggi membuat sejumlah instrumen investasi terlihat lebih menggiurkan, tetapi pada saat yang sama juga menambah tekanan pada cicilan utang dan arus kas rumah tangga. Di tengah kondisi itu, masyarakat diminta tidak terburu-buru mengejar imbal hasil sebelum memastikan keuangan pribadi benar-benar siap.

Executive Vice President International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia Bareyn Mochaddin menegaskan, kenaikan suku bunga selalu membawa dua konsekuensi sekaligus. Di satu sisi ada peluang keuntungan dari investasi, namun di sisi lain biaya pembayaran utang ikut terdorong naik.

“Dampak suku bunga naik itu dua sisi, betul ada potensi investasi, tetapi cicilan juga akan naik,” kata Bareyn kepada Katadata.co.id, dikutip Kamis (8/10).

Ia menilai banyak orang kerap langsung terpikat oleh prospek imbal hasil tinggi tanpa lebih dulu memperkuat pondasi keuangannya. Padahal, menurut dia, pengelolaan arus kas dan dana darurat harus menjadi langkah awal.

“Sehingga, langkah pertama bukan langsung berinvestasi, tetapi memastikan cash flow bulanan surplus dan dana darurat aman. Istilahnya, ‘aman dulu baru berkembang’,” ujarnya.

Danantara Tugaskan PT LEN Pimpin Chip AI Mobil Nasional

Bareyn menjelaskan, kondisi keuangan baru bisa disebut aman jika arus kas bulanan sudah positif, tidak ada beban utang konsumtif, serta dana darurat dan proteksi asuransi telah disiapkan dengan memadai.

Setelah fondasi itu kuat, barulah investor bisa mulai membaca peluang dari era bunga tinggi. Ia mencontohkan instrumen seperti obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik atau saham yang harganya tertekan akibat kenaikan suku bunga.

Meski begitu, Bareyn mengingatkan bahwa instrumen yang menawarkan return tinggi belum tentu cocok untuk semua orang. Pilihan investasi, kata dia, harus merujuk pada tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.

“Kadang yang menarik bukan yang terbaik, karena yang terbaik adalah yang paling tepat membantu kita untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan,” kata dia.

Ia juga menilai Surat Berharga Negara (SBN) yang baru dirilis cukup menarik dari sisi imbal hasil. Menurut Bareyn, kupon yang ditawarkan berada di level tertinggi sejak 2020.

IHSG Terkoreksi, Investor Cermati Tekanan Eksternal Kamis Ini

“(Ini bukan rekomendasi investasi) SBN yang baru diluncurkan cukup menarik dengan kupon tertinggi sejak 2020,” ujarnya.

Bagi investor yang cenderung berhati-hati, Bareyn menyarankan porsi SBN bisa ditambah. Sebaliknya, investor dengan karakter lebih agresif dapat mempertimbangkan porsi saham yang lebih besar. Namun, ia menekankan perlunya keseimbangan dalam portofolio.

“Di saat era suku bunga tinggi, bagi investor yang lebih berhati-hati, mungkin bisa memperbesar porsi SBN, sedangkan yang cukup agresif bisa memperbesar porsi saham. Yang penting dijaga adalah keseimbangan, emas sebaiknya tetap dimiliki,” katanya.

Bareyn juga meminta investor tidak gegabah ketika pasar saham sedang tertekan. Ia mengingatkan bahwa dampak suku bunga tinggi tidak dirasakan semua saham dengan cara yang sama.

Menurutnya, saham-saham di sektor properti misalnya, berpotensi lebih tertekan saat bunga naik. Meski begitu, investor tetap tidak bisa memastikan kapan harga sudah menyentuh titik terendah.

Bahlil Buka Peluang Moratorium Smelter Nikel Setengah Jadi

Karena itu, keputusan membeli atau menjual saham sebaiknya didasarkan pada analisis terhadap aset yang dimiliki. Jika melihat peluang, investor juga bisa masuk secara bertahap.

Untuk pemula yang baru punya kemampuan investasi sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan, Bareyn menilai kebiasaan berinvestasi jauh lebih penting daripada langsung mencari instrumen yang rumit.

“Bisa mulai dari logam mulia atau reksa dana pasar uang yang bisa dibeli mulai Rp 100 ribuan,” katanya.

Namun, ia kembali mengingatkan bahwa langkah tersebut tetap harus dilakukan setelah kondisi keuangan pribadi berada dalam posisi aman.

Bareyn juga memaparkan sejumlah kekeliruan yang perlu dihindari masyarakat dalam situasi bunga tinggi. Di antaranya menaruh seluruh dana di deposito, tergoda investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar, panik menjual saham atau reksa dana saat harga turun, hingga menggunakan utang untuk berinvestasi.

Ia menambahkan, diversifikasi tetap penting agar dana tidak terkonsentrasi pada satu jenis aset saja. “Menggunakan utang untuk berinvestasi karena melihat peluang cuan, padahal itu tidak disarankan dan bunga pinjaman sedang mahal. Dan terakhir, menaruh semua dana di satu jenis investasi saja,” kata Bareyn.

Komentar