Jawa Tengah – Mantan Menteri ESDM 2014-2016 Sudirman Said menilai capaian reformasi 1998 tengah mengalami kemunduran serius. Menurut dia, masalah itu berakar pada kualitas kepemimpinan nasional yang tak lagi tampil sebagai teladan dan abai terhadap tanggung jawab menjaga keberlangsungan negara.
Pernyataan itu disampaikan Sudirman saat bertemu Ketua KPK 2015-2019 Agus Rahardjo di Universitas Harkat Negeri, Jawa Tengah. Ia menyebut Indonesia saat ini menghadapi tiga defisit sekaligus, yakni defisit moralitas dan etika bernegara, defisit intelektual, serta defisit spiritual.
Sudirman mengaitkan kondisi tersebut dengan kepemimpinan nasional yang dinilainya tidak menyadari peran strategisnya. Ia juga merujuk buku Marcus Mietzner, Ruling Indonesia, yang disebut menempatkan kepemimpinan sebagai sumber kerusakan tata kelola.
Karena kerusakan muncul dari para pemimpin, menurut Sudirman, perbaikan pun harus dimulai dari sisi kepemimpinan. Ia kemudian menawarkan tiga model yang dianggap perlu untuk Indonesia, yaitu kepemimpinan institusional, kepemimpinan kolektif, dan kepemimpinan intrinsik.
Dalam pernyataannya, Sudirman menegaskan dirinya tidak percaya pada kejahatan yang sempurna maupun pada sosok Godfather. “Yang saya percaya adalah god betulan. Politik itu naik turun, tapi keluhuran akan lestari selamanya,” ujarnya.

