JAKARTA, Gonesia.com – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai merancang peta jalan transformasi bisnis yang ambisius dengan menetapkan target kontribusi pendapatan sebesar 20 persen dari sektor non-batubara dalam tiga hingga empat tahun mendatang.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya perusahaan tambang pelat merah tersebut dalam memitigasi ketergantungan terhadap komoditas fosil yang selama ini menjadi tulang punggung keuangan perseroan.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk Bukit Asam, Turino Yulianto, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah memacu sejumlah proyek hilirisasi yang dinilai memiliki prospek jangka panjang bagi perusahaan.
Beberapa proyek yang sedang dalam tahap pengembangan meliputi pengolahan batubara menjadi dimethyl ether (DME), metanol, synthetic natural gas (SNG), hingga produksi kalium humat dan artificial graphite.
“Kami juga mengembangkan bisnis energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS),” ujar Turino dalam konferensi pers secara daring, Senin (7/9/2026).
Salah satu fokus utama dalam portofolio baru tersebut adalah proyek hilirisasi DME yang kini sedang menjalani joint feasibility study bersama mitra strategis terkait.
Proyek DME tersebut telah ditetapkan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional dan diproyeksikan akan memasuki fase konstruksi pada tahun 2027 mendatang.
Selain hilirisasi, PTBA juga mengoptimalkan pemanfaatan lahan pascatambang yang telah direklamasi untuk dialihfungsikan menjadi area pengembangan proyek energi terbarukan.
Hingga saat ini, perusahaan telah mengantongi portofolio PLTS dengan total kapasitas sebesar 1,2 megawatt (MW) yang dikerjakan bersama PT Pertamina New and Renewable Energy.
Meskipun diversifikasi bisnis terus digalakkan secara agresif, Turino menegaskan bahwa operasional perusahaan akan tetap berpijak pada kompetensi utama yang dimiliki PTBA.
“Jadi kami tetap pada core competence bisnis batubara dan turunannya,” imbuh dia.
Ketergantungan terhadap sektor batubara memang masih terlihat dominan dalam struktur kinerja keuangan PTBA pada semester I-2026.
Perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 22,03 triliun atau tumbuh sekitar 8 persen secara tahunan, yang didorong oleh volume produksi batubara sebesar 19,45 juta ton.
Peningkatan efisiensi operasional berhasil mendongkrak laba bersih perusahaan hingga mencapai Rp 2,65 triliun, atau melonjak sebesar 218 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai bahwa dalam jangka pendek, kinerja PTBA masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga batubara global.
Ia menambahkan, efisiensi logistik melalui pengembangan infrastruktur seperti proyek Tanjung Enim-Kramasan dengan kapasitas 20 juta ton per tahun menjadi kunci utama pertumbuhan jangka pendek.
Pengembangan kapasitas Kertapati dari 8 juta ton menjadi 15,3 juta ton per tahun juga diproyeksikan mampu meningkatkan volume penjualan serta menekan biaya logistik secara signifikan.
Sementara itu, sektor energi terbarukan dan proyek hilirisasi diprediksi baru akan memberikan kontribusi substansial sebagai mesin laba baru bagi perusahaan dalam jangka panjang.
Berdasarkan proyeksi kinerja tersebut, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga yang direvisi naik menjadi Rp 3.320 per saham.
Pada penutupan perdagangan bursa Senin (7/9), saham emiten bersandi PTBA ini tercatat menguat 4,51 persen dan bertengger di level Rp 3.010 per lembar saham.


