Jakarta, Gonesia.com – Pemerintah resmi melelang 308 ribu ton beras milik Perum Bulog yang mengalami penurunan mutu untuk dialihkan menjadi bahan baku industri tepung beras nasional.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk mengelola stok beras cadangan pemerintah yang saat ini berada dalam jumlah melimpah.
Data mencatat bahwa dalam kurun waktu dua tahun terakhir, total stok beras yang tersimpan di gudang Bulog telah menembus angka lebih dari 5 juta ton.
Penumpukan stok dalam jangka waktu lama tersebut secara alami memicu penurunan kualitas pada sebagian komoditas beras yang tersimpan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengonfirmasi bahwa langkah pelelangan ini menjadi solusi konkret atas kondisi tersebut.
“Yang kurang mutu itu kira-kira 300 ribu ton,” kata Zulkifli usai rapat koordinasi di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (7/9).
Pemerintah mematok harga minimal sebesar Rp11.000 per kilogram bagi pihak swasta atau industri yang berminat mengikuti lelang tersebut.
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini sekaligus menjadi instrumen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan di pasar domestik.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal menegaskan bahwa inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya hilirisasi komoditas pangan di dalam negeri.
Menurutnya, Indonesia kini telah mampu memangkas ketergantungan terhadap impor bahan baku tepung beras secara signifikan.
“Kebetulan kita punya stok kurang lebih 380 ribu ton. Sesuai arahan Pak Menko dan kesepakatan rapat Rakortas, disepakati kebijakan hilirisasi beras menjadi tepung beras sebanyak 308 ribu ton,” kata Ahmad dalam kesempatan yang sama.
Proses pelelangan tersebut akan dilaksanakan secara transparan melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
Pemenang lelang nantinya akan ditentukan berdasarkan penawaran harga terbaik yang memenuhi ketentuan batas bawah pemerintah.
Ahmad menjelaskan bahwa sebagian besar beras yang akan dilelang tersebut telah disimpan di gudang selama lebih dari sepuluh bulan.
Bahkan, terdapat sebagian stok yang telah tersimpan antara satu tahun hingga satu tahun tiga bulan sejak pengadaan awal.
Meskipun kualitasnya menurun untuk konsumsi rumah tangga, kondisi beras tersebut justru dinilai ideal bagi kebutuhan industri tepung.
Ia menyatakan bahwa pengusaha tepung beras justru memiliki preferensi khusus terhadap beras dengan masa simpan yang lebih panjang.
“Biasanya pengusaha tepung beras justru semakin lama usia beras, semakin senang karena kadar amilosanya akan lebih sesuai dengan kebutuhannya,” ujar dia.
Karakteristik kadar amilosa pada beras yang lebih tua dianggap lebih stabil dan memenuhi spesifikasi teknis untuk mesin pengolah tepung.
Sebaliknya, beras dengan usia simpan yang baru justru sering kali tidak memenuhi standar kualitas yang diinginkan oleh pelaku industri.
“Kalau kadar amilosanya rendah, mereka justru tidak menerima. Beras yang masih baru malah tidak diterima,” pungkasnya.


