Jakarta, Gonesia.com — Industri reksadana nasional mencatatkan sinyal pemulihan pada Agustus 2026 dengan kenaikan tipis Nilai Aktiva Bersih (NAB) sebesar 0,05% secara bulanan menjadi Rp652,88 triliun.
Meski pertumbuhan aset kelolaan relatif moderat, reksadana saham justru menunjukkan performa impresif dengan mencetak imbal hasil atau return tertinggi dibandingkan instrumen investasi lainnya.
Data Infovesta per 31 Agustus 2026 menunjukkan sepuluh produk reksadana saham unggulan mampu membukukan return bulanan di kisaran 7,15% hingga 13,51%.
Dominasi aset kelolaan secara keseluruhan masih dipegang oleh reksadana pendapatan tetap yang menguasai 33,35% dari total NAB industri.
Reksadana pasar uang menyusul di posisi kedua dengan porsi 19,58%, diikuti reksadana saham sebesar 10,61%, dan reksadana campuran sebesar 5,66%.
Head of Equity PT BNP Paribas Asset Management, Amica Darmawan, memproyeksikan tren pertumbuhan dana kelolaan tetap akan terjaga hingga akhir semester II-2026.
Ia menilai ketahanan dana kelolaan saat ini mencerminkan minat investor yang masih stabil meski pasar sempat menghadapi tekanan pada awal tahun.
“Secara khusus, kami melihat reksadana saham, baik domestik maupun global, berpotensi menjadi salah satu produk unggulan hingga akhir tahun,” ujar Amica kepada Kontan, Senin (7/9/2026).
Menurut dia, koreksi harga pada sejumlah saham domestik sepanjang tahun ini justru menciptakan valuasi yang lebih menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi bertahap.
Ia menambahkan bahwa kinerja reksadana saham ke depan akan sangat bergantung pada dinamika kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, serta perkembangan geopolitik global.
Dari sisi domestik, ia menekankan pentingnya memantau stabilitas inflasi, pergerakan nilai tukar rupiah, serta laporan laba emiten sebagai indikator utama.
Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri, menyarankan investor untuk menerapkan strategi balanced selective risk taking di tengah kondisi pasar saat ini.
Ia berpendapat bahwa reksadana pasar uang tetap krusial sebagai jangkar likuiditas, meskipun potensi penurunan biaya likuiditas oleh Bank Indonesia dapat menyebabkan normalisasi imbal hasil ke depan.
Terkait reksadana pendapatan tetap, ia mencatat adanya daya tarik baru seiring kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke level 7,11%.
Namun, ia menyarankan agar investor tetap fokus pada durasi jangka pendek hingga menengah dengan melakukan perpanjangan durasi ke tenor panjang secara bertahap.
Terkait pasar saham, ia melihat aliran dana masuk asing (foreign net buy) senilai Rp2,30 triliun menjadi katalis positif bagi instrumen berbasis saham berkapitalisasi besar.
“Secara benchmark dan risk-adjusted, fixed income kembali menawarkan entry yield yang lebih baik, sementara equity memiliki upside lebih besar tetapi dispersion dan volatility juga meningkat,” ucapnya.
Untuk investor dengan profil risiko moderat, ia merekomendasikan komposisi portofolio yang seimbang dengan alokasi 35% pada pasar uang, 40% pada pendapatan tetap, dan 25% pada reksadana saham.
Penyesuaian alokasi ke sektor ekuitas ini, lanjutnya, didorong oleh perbaikan kualitas aliran dana asing yang masuk ke pasar domestik.


