Ekonomi

Saham GGRM Melonjak, Harga Pasar Mendekati Target Konsensus Analis

JAKARTA – Kinerja saham emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menunjukkan tren penguatan signifikan di tengah dinamika pasar modal Indonesia. Pada penutupan perdagangan Rabu (17/6/2026), harga saham GGRM berhasil menguat 2,69% ke level Rp 16.200 per lembar.

Pencapaian ini memperpanjang catatan positif emiten tersebut. Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham GGRM telah mencatatkan kenaikan sebesar 9,46%. Bahkan, jika ditarik sejak awal tahun 2026, akumulasi kenaikan harga saham GGRM telah mencapai 18,68%.

Tren positif yang dialami GGRM tampak kontras dengan kinerja pesaingnya di industri yang sama, yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Berbeda dengan GGRM, saham HMSP justru mencatatkan pelemahan pada perdagangan Rabu dengan penurunan 3,2% ke posisi Rp 605 per saham.

Secara kumulatif, saham HMSP mengalami tekanan jual yang cukup dalam sepanjang tahun ini. Per 17 Juni 2026, saham HMSP tercatat terkoreksi sebesar 18,24% sepanjang tahun berjalan (year-to-date). Dalam lima hari terakhir pun, saham HMSP masih berada di zona merah dengan penurunan sebesar 2,42%.

Divergensi performa kedua emiten raksasa rokok ini juga tercermin dalam pandangan para analis pasar modal. Berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg, harga saham GGRM saat ini dinilai sudah berada di kisaran target yang dipatok oleh para analis.

Rupiah Melemah Akibat Penguatan Dolar AS dan Sikap Hati-hati Investor

Dari total 13 analis yang melakukan pemantauan terhadap GGRM, sebanyak tujuh analis memberikan rekomendasi beli. Sementara itu, tiga analis lainnya menyarankan untuk menahan (hold) dan tiga analis sisanya merekomendasikan untuk menjual (sell).

Konsensus analis mematok target harga GGRM di level Rp 16.650 per saham untuk periode 12 bulan ke depan. Dengan harga penutupan terakhir di Rp 16.200, potensi imbal hasil atau return yang tersisa bagi investor diperkirakan berada di kisaran 2,8%.

Meski demikian, terdapat proyeksi yang lebih optimis dari pihak tertentu. Analis BNI Sekuritas, Patricia Gabriela, dalam riset terbarunya pada 9 Juni 2026, menetapkan target harga yang lebih tinggi bagi GGRM, yakni di level Rp 21.000 per saham untuk jangka waktu satu tahun ke depan.

Di sisi lain, respons pasar terhadap HMSP justru menunjukkan optimisme yang lebih besar dari sisi potensi kenaikan harga. Sebanyak 12 analis dalam konsensus Bloomberg masih menyarankan investor untuk membeli saham HMSP. Sementara itu, masing-masing satu analis memberikan rekomendasi hold dan sell.

Para analis menetapkan target harga rata-rata untuk HMSP di level Rp 924,5 per saham. Angka tersebut mencerminkan potensi return yang cukup besar, yakni mencapai 52,8% dari harga saat ini.

Mengapa Penyaluran Kredit Bank ke Sektor UMKM Masih Terhambat?

Patricia Gabriela dari BNI Sekuritas, yang juga memperbaharui risetnya pada 9 Juni 2026, menetapkan target harga untuk HMSP di level Rp 900 per saham untuk proyeksi 12 bulan ke depan. Perbedaan proyeksi dan realisasi harga pasar ini mengindikasikan adanya perbedaan sentimen investor terhadap prospek bisnis masing-masing perusahaan rokok tersebut di sepanjang tahun 2026.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

04

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

05

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

06

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru