Jakarta, Gonesia.com — Nilai tukar rupiah diprediksi akan menghadapi tekanan berat pada perdagangan Jumat (11/9/2026) akibat kombinasi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan antisipasi pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat.
Posisi mata uang Garuda pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026) tercatat melemah 0,21% ke level Rp 17.547 per dolar AS menurut data Bloomberg.
Di sisi lain, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,09% menjadi Rp 17.536 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi dari Kontan menyatakan bahwa pelemahan rupiah sepanjang hari ini terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS akibat memanasnya ketegangan global.
Ia menambahkan bahwa tekanan tersebut sebenarnya sempat tertahan oleh rilis indeks keyakinan konsumen domestik Agustus yang menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Sentimen negatif utama untuk perdagangan Jumat besok bersumber dari eskalasi pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
Ketegangan semakin diperparah oleh serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi yang memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan minyak mentah dunia.
“Serangan Houthi tersebut memperparah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan di kawasan Teluk akan meluas hingga ke luar wilayah Hormuz, sebuah skenario yang berpotensi semakin memangkas pasokan global,” ujarnya.
Gangguan pada sektor energi ini secara langsung berdampak pada kondisi fiskal Indonesia melalui potensi pembengkakan anggaran subsidi dan kompensasi energi.
Lonjakan harga minyak mentah internasional juga berisiko meningkatkan nilai impor yang pada gilirannya memperbesar kebutuhan akan pasokan dolar AS di pasar domestik.
Risiko inflasi dalam negeri pun kian nyata apabila pemerintah terpaksa melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat tekanan eksternal tersebut.
Selain isu geopolitik, investor saat ini tengah menanti rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) serta Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Data inflasi tersebut menjadi acuan utama bagi pelaku pasar dalam memprediksi arah kebijakan moneter The Federal Reserve pada pertemuan mendatang.
CME FedWatch Tool saat ini mencatat probabilitas pasar sebesar 60% untuk kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS.
Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, daya tahan rupiah masih dibantu oleh optimisme konsumen domestik terhadap kondisi keuangan rumah tangga mereka.
Namun, ia mengingatkan bahwa optimisme tersebut memiliki sisi rapuh karena tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan yang sepadan di masyarakat.
“Walaupun peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat, demi menopang belanja, masyarakat masih terjerat fenomena makan tabungan,” lanjutnya.
Berdasarkan seluruh variabel tersebut, ia memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan esok hari.
Nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada dalam rentang pergerakan antara Rp 17.540 hingga Rp 17.590 per dolar AS.


