Jakarta, Gonesia.com – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) memberikan sinyal positif bagi para pemegang saham dengan merencanakan pembagian dividen untuk tahun buku 2026.
Perseroan menargetkan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio berada di kisaran 20% hingga 25%.
Rencana ini menjadi angin segar bagi investor setelah pada tahun buku sebelumnya bank pelat merah tersebut memutuskan untuk tidak membagikan dividen.
Direktur Utama BBTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengonfirmasi bahwa target pembagian dividen tersebut telah dituangkan secara resmi dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) perseroan.
“Di RBB kita di 2026 memang kita tulis 20-25%. Jadi kita masih konsisten dengan angka yang ditulis di RBB. Tapi sekali lagi nanti ini bergantung pada saat RUPS diumumkan. Karena memang dividen kan itu games-nya pemilik banyak saham,” ujar Nixon dalam paparan publik virtual pada Kamis (10/9), sebagaimana dikutip dari Katadata.
Keputusan final mengenai distribusi laba ini nantinya akan diputuskan secara mutlak dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Terkait potensi pembagian dividen interim, ia menegaskan bahwa pihak manajemen belum memiliki rencana untuk mengambil langkah tersebut dalam waktu dekat.
Menurutnya, kebijakan untuk tidak membagikan dividen interim telah konsisten dijalankan oleh perseroan dalam lima tahun terakhir.
Sebagai catatan historis, BBTN sempat mencatatkan pembayaran dividen sebesar Rp 53,57 per saham untuk tahun buku 2024.
Pada tahun buku 2023, perusahaan memberikan dividen senilai Rp 49,89 per saham, sementara pada tahun buku 2022 tercatat sebesar Rp 43,39 per saham.
Selain membahas kebijakan dividen, manajemen juga memaparkan strategi penguatan permodalan perusahaan ke depan.
Perseroan saat ini masih memiliki sisa ruang penerbitan obligasi subordinasi dalam program Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) senilai Rp 3 triliun dari total plafon Rp 5 triliun.
Nixon menyatakan bahwa penerbitan sisa instrumen tersebut akan sangat bergantung pada kebutuhan permodalan bank di masa depan.
Saat ini, rasio permodalan perseroan diklaim masih berada di level yang sehat, yakni di kisaran 17% hingga 18%.
“Melihat sisa Rp 3 triliun ini kita akan sesuaikan dengan kebutuhan permodalan BTN. So far karena kita masih terjaga, masih di level 17-18% sesuai dengan target kita,” katanya.
Ia menambahkan bahwa jika kebutuhan modal mendesak, pihak manajemen siap mengeksekusi sisa penerbitan tersebut.
Dalam upaya menjaga dinamika pasar, BBTN juga berencana kembali melakukan sekuritisasi aset pada akhir tahun 2026.
Langkah ini diambil setelah perusahaan sempat absen melakukan sekuritisasi selama tiga tahun terakhir.
Sekuritisasi tersebut direncanakan menggunakan instrumen senior debt dengan nilai antara Rp 300 miliar hingga Rp 400 miliar.
Ia menegaskan bahwa inisiatif ini bukan didorong oleh urgensi likuiditas, melainkan untuk menjaga eksistensi perusahaan di pasar sekuritisasi.
“Sekuritisasi itu bukan karena liquidity ya. Tapi memang kita lagi menjaga market yang ada. Karena BTN sempat berhenti tiga tahun tidak isu sekuritisasi,” ujarnya.


