Jakarta – Indonesia dan Rusia sepakat menjajaki kerja sama strategis di sektor maritim dan industri perkapalan, dengan mengidentifikasi enam poin utama kolaborasi. Kerja sama ini diharapkan dapat mendorong kontribusi sektor kelautan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 9,1 persen pada tahun 2029.
Pertemuan bilateral antara kedua negara berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, pada Kamis, 6 November 2025. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sementara delegasi Rusia dipimpin oleh Ketua Dewan Maritim Rusia, Nikolai Patrushev.
AHY menyatakan, Rusia telah memaparkan kemampuan dan inovasi maritim mereka untuk kebutuhan sipil, kemanusiaan, hingga pertahanan. Indonesia melihat peluang besar untuk pertukaran pengetahuan dan pembangunan kolaborasi jangka panjang di bidang ini.
Enam poin kerja sama strategis yang disepakati mencakup industri galangan kapal, alih teknologi perkapalan, pengelolaan sumber daya laut, pengembangan teknologi maritim, peningkatan sumber daya manusia (SDM) kemaritiman, dan industri perikanan.
AHY menjelaskan, pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi kedua negara yang memiliki karakteristik geografis kuat di bidang kelautan. Indonesia sebagai negara kepulauan dan Rusia dengan wilayah daratan terluas serta kekuatan maritim yang maju, memiliki potensi saling melengkapi, khususnya dalam teknologi, riset, dan pengembangan industri perkapalan.
Peningkatan kontribusi sektor maritim terhadap PDB menjadi salah satu fokus utama. AHY menargetkan angka saat ini sebesar 8,1 persen dapat naik menjadi 9,1 persen pada tahun 2029. Untuk mencapai target ini, pemerintah akan memperkuat kebijakan fiskal, melakukan reformasi struktural, serta mendorong investasi swasta di sektor maritim.
Selain itu, pemerintah juga berencana meningkatkan efisiensi pelabuhan utama dan memperluas jaringan tol laut sebagai tulang punggung distribusi logistik nasional. Beberapa proyek strategis yang sedang dikembangkan meliputi Terminal Peti Kemas di Jakarta, Terminal Kijing di Kalimantan Barat beserta kawasan industrinya, Pelabuhan Baru Makassar, dan Bali Maritime Tourism Hub (BMTH).
“Peningkatan infrastruktur dan efisiensi logistik akan memperkuat ekonomi pesisir serta membuka lebih banyak peluang kerja. Sebagai negara dengan lebih dari 17 ribu pulau, laut adalah tulang punggung Indonesia,” ujar AHY.
Kerja sama dengan Rusia juga akan memperkuat peningkatan kapasitas SDM. AHY menekankan pentingnya pelatihan teknis dan pengembangan ahli kemaritiman agar Indonesia memiliki tenaga terampil yang siap mendukung pertumbuhan industri.
Untuk memastikan tindak lanjut yang konkret, enam kesepakatan maritim tersebut akan dibahas lebih rinci melalui pembentukan *joint working teams* atau kelompok kerja gabungan. Tim ini akan fokus pada sektor perkapalan, pengelolaan sumber daya laut dan perikanan, serta inovasi teknologi dan pengembangan tenaga ahli.
“Kami ingin kerja sama ini dijalankan secara konkret dan berkelanjutan. Semakin kuat SDM dan industri maritim Indonesia, semakin besar kontribusinya terhadap perekonomian nasional,” tutup AHY.


