Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan melesat hingga 6 persen. Proyeksi optimis ini melampaui target pemerintah sebesar 5,4 persen dan estimasi Bank Indonesia (BI) yang lebih konservatif di angka 5,33 persen.
Purbaya menyatakan keyakinannya tersebut didasari oleh efektivitas kebijakan-kebijakan ekonomi yang telah dijalankan pemerintah. “Kalau kebijakan yang sekarang dijalankan terus dengan baik, kita berada di arah yang benar,” ujarnya di Jakarta, Ahad, 16 November 2025.
Ia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat tahun ini akan berada di rentang 5,7 persen. Purbaya menegaskan, ekonomi Indonesia akan terus tumbuh seiring upaya menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen.
Sebelumnya, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini tercatat sebesar 5,04 persen. Angka ini, menurut Purbaya, menunjukkan pengelolaan APBN yang efektif dan berdampak positif terhadap penciptaan 1,9 juta lapangan kerja.
Jumlah pengangguran juga dilaporkan turun 4.000 orang menjadi 7,46 juta pada Agustus 2025, dibandingkan Agustus 2024. Akibatnya, tingkat pengangguran terbuka (TPT) menurun dari 4,91 persen menjadi 4,85 persen dalam periode yang sama.
Dari sisi permintaan domestik pada kuartal ketiga, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89 persen (yoy). Peningkatan ini didorong oleh mobilitas penduduk, pertumbuhan transaksi digital, dan dukungan kebijakan pemerintah.
Konsumsi pemerintah turut mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,49 persen. Belanja barang dan belanja pegawai masing-masing naik 19,3 persen dan 9,0 persen, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan menopang daya beli melalui percepatan serta optimalisasi belanja.
Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,04 persen (yoy), didukung keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional. Pemerintah juga berkomitmen menciptakan iklim usaha yang stabil untuk mendukung ekspansi bisnis.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memiliki proyeksi yang sedikit berbeda untuk tahun 2026. Perry memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,33 persen, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat pada 12 November 2025, Perry menjelaskan bahwa BI telah mempertimbangkan sejumlah faktor. Faktor tersebut meliputi perlambatan ekonomi global, termasuk negara-negara mitra utama Indonesia.
BI juga memperhitungkan langkah-langkah dukungan bank sentral untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, seperti potensi penurunan suku bunga. Perry menilai masih ada ruang untuk penurunan suku bunga ke depan.
Pertimbangan lain yang juga telah dihitung adalah kebijakan BI dalam ekspansi likuiditas moneter, pemberian insentif likuiditas makroprudensial, serta program moneter seperti pembelian Surat Berharga Negara dari pasar sekunder.
Meski demikian, Perry mengatakan BI melihat kemungkinan pertumbuhan ekonomi dapat menembus target pemerintah 5,4 persen untuk 2026. Hal ini sangat bergantung pada koordinasi dan kecepatan realisasi stimulus fiskal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).


