Jakarta, Gonesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa impresif pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Indeks ditutup menguat signifikan sebesar 131,22 poin atau 2,28% ke posisi 5.875,78.
Lonjakan ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari pasar global maupun domestik yang mulai menunjukkan perbaikan.
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar menjadi katalis utama penguatan tersebut.
Kondisi ekonomi AS yang melambat memicu spekulasi bahwa bank sentral setempat akan menahan diri dari kebijakan kenaikan suku bunga yang agresif.
Harapan tersebut memicu kembalinya minat investor terhadap aset-aset berisiko di pasar saham negara berkembang.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur di kawasan Asia yang tetap solid turut memperkuat optimisme investor.
Penguatan bursa regional serta apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan dorongan tambahan bagi pasar domestik.
Sektor perindustrian menjadi motor penggerak utama penguatan IHSG melalui aksi bargain hunting investor.
Namun, analis pasar modal Hendra Wardhana memberikan catatan khusus terkait keberlanjutan tren ini.
Hendra Wardhana menyatakan dalam keterangan resminya, “Meski demikian, kenaikan IHSG masih perlu disikapi secara selektif karena belum didukung oleh arus dana asing yang kuat.”
Data menunjukkan investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 88 triliun sepanjang tahun berjalan.
Bahkan pada perdagangan Jumat lalu, investor asing kembali melakukan aksi jual bersih sebesar Rp 16 miliar.
Dominasi transaksi saat ini masih bertumpu pada investor domestik, yang membuat potensi volatilitas pasar tetap tinggi.
Untuk perdagangan Senin (6/7), IHSG diproyeksikan akan bergerak dalam rentang 5.840 hingga 5.950.
Level 5.900 kini menjadi area psikologis krusial yang akan diuji oleh indeks.
Sementara itu, praktisi pasar modal William Hartanto menyoroti keberhasilan indeks menembus level penting.
William Hartanto mengungkapkan dalam risetnya, “Rebound berlanjut dan berhasil membawa IHSG kembali ke level 5.800, ini adalah level yang cukup penting untuk menentukan potensi reversal.”
William memprediksi indeks akan bergerak dengan support di level 5.800 dan resistance di kisaran 6.000.
Meskipun nilai transaksi harian sempat menurun, ia menilai kondisi tersebut masih dalam batas wajar.
Strategi investasi yang disarankan bagi pelaku pasar saat ini adalah melakukan pembelian selektif.
Saham seperti BRIS, MDKA, MBMA, dan SCMA menjadi pilihan menarik dengan potensi speculative buy.
Sementara itu, saham IMPC dan BBTN juga direkomendasikan untuk dicermati dengan target harga yang terukur.
Investor diharapkan tetap menerapkan disiplin manajemen risiko yang ketat di tengah belum kembalinya arus dana asing secara konsisten.

