Jakarta – Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Charles PH Simanjuntak menegaskan, pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu.
"Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis," ujar Charles.
Dari sisi pencegahan, Charles menyarankan, Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak.
Menurut Charles, pelibatan masyarakat juga menjadi kunci. Perburuan berbasis komunitas dinilai mampu menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi dari daerah lain.
"Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya," ucap dia.
Dari sisi kontrol biologis, lanjut Charles, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat membantu mengendalikan populasi, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu berukuran 0,6–1,0 cm.
Dia juga mengusulkan upaya pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi. Namun, tidak dalam konteks untuk dikonsumsi.
"Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar nerpotensi mengandung logam berat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi," terang Charles.
"Dengan pendekatan terpadu dan melibatkan berbagai pihak, pengendalian ikan sapu-sapu diharapkan dapat dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta," pungkas dia.

