Den Haag – Presiden Prabowo Subianto menyempatkan diri berziarah ke makam kakek dan neneknya di Den Haag, Belanda, di sela-sela kunjungan kenegaraan pada 26 September 2025. Kunjungan resmi ini juga menghasilkan kesepakatan penting, di mana Raja Willem-Alexander menyatakan kesediaannya untuk mengembalikan 30.000 artefak Indonesia yang diambil selama masa penjajahan.
Momen personal tersebut dibagikan Prabowo melalui akun Instagram pribadinya, @prabowo, pada hari yang sama. Ia mengunggah dua foto yang memperlihatkan dirinya berdoa di hadapan nisan kakek dan neneknya, Phillip Frederik Laurens Sigar serta Cornelie Emilie Sigar. Keduanya merupakan orang tua dari ibunda Prabowo, Dora Marie Sigar.
“Di sela-sela kunjungan resmi kenegaraan ke Kerajaan Belanda, saya menyempatkan diri berziarah ke pemakaman umum Oud Eik en Duinen di Den Haag,” tulis Prabowo. Phillip Frederik Laurens Sigar dan Cornelie Emilie Sigar wafat serta dimakamkan di Belanda pada tahun 1946.
Kunjungan bilateral Prabowo ke Belanda ini dilakukan setelah dirinya menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di New York, Amerika Serikat. Agenda di Belanda fokus pada penguatan hubungan diplomatik dan kerja sama.
Prabowo melaporkan bahwa dirinya diterima dengan hangat saat mengunjungi Istana Huis ten Bosch di Den Haag pada 26 September 2025. Ia disambut langsung oleh Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima, di mana mereka mendiskusikan berbagai isu penting, termasuk penguatan hubungan bilateral kedua negara di beragam bidang strategis.
Salah satu poin krusial dari pertemuan itu adalah kesepakatan Raja Belanda untuk mengembalikan 30.000 artefak bersejarah milik Indonesia. “Saya kira etika baik dari Belanda ingin memelihara hubungan baik dengan kita,” ujar Prabowo saat tiba kembali di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusumah, Jakarta, pada 27 September 2025.
Prabowo juga menginformasikan bahwa Ratu Máxima, yang dikenal sebagai seorang ahli keuangan, dijadwalkan akan berkunjung ke Indonesia pada 25 November tahun ini. Kunjungannya bertujuan untuk berdiskusi bersama para ahli keuangan di Indonesia.
Dora Marie Sigar adalah istri dari Soemitro Djojohadikoesoemo, yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset Indonesia ke-3 dan Menteri Keuangan Indonesia ke-8. Pasangan ini dikaruniai empat anak, yaitu Biantiningsih Miderawati Djiwandono, Marjani Ekowati le Maistre, Prabowo Subianto, dan Hashim Djojohadikusumo.
Berasal dari keluarga penjabat Belanda atau *ambtenaar*, Dora Marie Sigar berperan besar dalam mendidik dan mendisiplinkan anak-anaknya dengan budaya Belanda sejak Prabowo lahir pada 1951. Meskipun demikian, ia tetap menanamkan nilai-nilai penting tentang dedikasi terhadap negara dan pendidikan. Dora Marie Sigar meninggal dunia pada 23 Desember 2008 di RS Mount Elizabeth, Singapura, pada usia 87 tahun dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.


