JAKARTA, Gonesia.com – Presidium Profesional Terpadu Indonesia Raya (Postidar) memberikan peringatan keras agar rencana aksi demonstrasi pada 27 Agustus 2026 tidak ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin mengganggu stabilitas nasional demi agenda politik tertentu.
Ahmad Kailani, selaku perwakilan dari Postidar, menekankan bahwa penyampaian aspirasi di ruang publik adalah hak konstitusional setiap warga negara dalam iklim demokrasi.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap pergerakan massa harus tetap berada dalam koridor hukum dan menjaga ketertiban umum.
“Aksi demonstrasi jangan sampaikan berkembang menjadi tindakan anarkis yang dapat merugikan masyarakat serta mengganggu stabilitas nasional,” ujar Ahmad Kailani dalam keterangan tertulis pada Rabu (26/8/2026) seperti dilansir JPNN.com.
Kailani menyoroti bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat ini sedang fokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, duet pemimpin tersebut telah berupaya keras menyatukan berbagai kekuatan domestik untuk membangun bangsa.
Ia menambahkan bahwa diplomasi persahabatan yang diusung Presiden Prabowo telah mulai membuahkan hasil konkret bagi kesejahteraan rakyat.
“Lalu, apa hasilnya? Satu per satu pohon diplomasi Presiden Prabowo mulai berbuah. Salah satu hasilnya adalah bangkitnya lapangan gas abadi di Blok Masela, Maluku, yang sempat mangkrak selama hampir 30 tahun,” ujarnya.
Proyek strategis nasional tersebut mencatatkan nilai investasi lebih dari Rp 350 triliun dengan melibatkan konsorsium global.
Keberhasilan pemerintah juga tercermin dari angka pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun 2026 yang menyentuh angka 5,6 persen.
“Bukti lainnya adalah pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 sebesar 5,6 persen yang dinilai cukup signifikan,” kata dia.
Kailani menyayangkan adanya berbagai narasi yang berkembang di media sosial yang berupaya mengusik fokus pemerintah dalam menjalankan program strategis.
Senada dengan hal itu, Presidium Postidar lainnya, Agus Teddy Sumantri, menyatakan bahwa stabilitas ekonomi adalah fondasi utama bagi kemajuan Indonesia.
Ia menilai bahwa Indonesia saat ini sedang berada dalam fase krusial untuk tumbuh dan berkembang di tengah tantangan global yang tidak menentu.
“Indonesia saat ini sedang berada dalam fase penting growing up, sebuah momentum pertumbuhan ekonomi yang membutuhkan fokus, kerja keras, serta sinergi dari seluruh elemen bangsa,” ujar Teddy.
Sementara itu, anggota presidium lainnya, Sulaiman Haikal, meyakini masyarakat kini sudah semakin dewasa dalam berdemokrasi.
Ia optimistis aksi massa yang akan datang tidak akan menggoyahkan tatanan negara karena kesadaran kolektif publik untuk menjaga kedamaian.
Postidar juga menyoroti pernyataan kontroversial mantan Menteri Komunikasi dan Digital, Budi Arie Setiadi, terkait spekulasi politik masa depan.
Presidium Postidar Thurman Simanjuntak menilai pernyataan tersebut tidak produktif dan berpotensi memicu kegaduhan yang tidak diperlukan oleh masyarakat.
“Jika pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Budi Arie, maka dia perlu menjelaskannya secara terbuka dan tidak berlindung semata-mata di balik alasan video terpotong. Publik berhak mendapatkan penjelasan yang utuh,” tegas Thurman.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengabaikan spekulasi politik dan tetap fokus mengawal program strategis pemerintah.
“Yang dibutuhkan Indonesia bukan spekulasi mengenai perubahan politik, melainkan persatuan dan kerja nyata,” pungkasnya.


