JAKARTA, Gonesia.com — Pasar saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang variatif pada perdagangan Rabu (26/8/2026) pagi, dipicu oleh sentimen global terkait komoditas energi dan antisipasi laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa.
Indeks Nikkei 225 di Jepang terpantau melemah 0,38% ke level 65.612, sementara Hang Seng di Hong Kong justru menguat 0,68% ke posisi 25.688,08.
Kondisi pasar yang beragam ini terjadi di tengah penurunan harga minyak dunia dan melandainya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Harga minyak mentah berjangka Brent merosot lebih dari 2% menjadi US$ 86,41 per barel pada Rabu pagi.
Penurunan harga komoditas ini dipicu oleh kabar mengenai dimulainya kembali pembicaraan antara Iran dan Oman terkait pengelolaan selat strategis.
Pasar merespons positif prospek peningkatan pasokan minyak melalui selat tersebut, yang sebelumnya terganggu akibat konflik berkepanjangan.
Para analis dari J.P. Morgan menyebutkan dalam catatannya bahwa pergerakan harga saat ini menunjukkan pasar dengan cepat memperhitungkan optimisme terkait kemungkinan adanya pengumuman sementara.
Ia menambahkan, “Meskipun tidak ada kemajuan nyata atau rincian mengenai kesepakatan Iran-Oman—karena Iran menegaskan kembali bahwa Hormuz akan tetap ditutup sampai syarat-syarat tertentu dipenuhi—pergerakan harga menunjukkan bahwa pasar dengan cepat memperhitungkan optimisme terkait kemungkinan adanya pengumuman sementara.”
Sentimen positif dari sektor energi ini turut menekan imbal hasil surat utang atau Treasury AS tenor 10 tahun ke level 4,634%.
Di sisi lain, investor global kini mengalihkan fokus perhatiannya pada laporan keuangan kuartal kedua Nvidia yang dijadwalkan rilis hari ini.
Kinerja Nvidia dinilai menjadi tolok ukur krusial bagi keberlanjutan tren investasi di sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo, Singapura, menilai ekspektasi pasar terhadap Nvidia saat ini sudah berada di level yang sangat tinggi.
Ia menegaskan, “Nvidia mendekati titik di mana melampaui ekspektasi pasar sudah dianggap sebagai hal yang wajar, sehingga angka-angka utama saja mungkin tidak akan menentukan reaksi pasar.”
Menurutnya, tantangan utama bagi perusahaan adalah menunjukkan panduan kinerja yang cukup kuat untuk mendorong ekspektasi laba di masa depan.
Ia melanjutkan, “Pertanyaannya bukan lagi apakah Nvidia akan melampaui ekspektasi, melainkan seberapa besar selisih kelebihannya dan apakah panduan kinerja perusahaan cukup kuat untuk terus mendorong kenaikan ekspektasi laba.”
Para analis memproyeksikan Nvidia bakal membukukan kenaikan penjualan kuartal ketiga sebesar 82,8% menjadi US$104,20 miliar.
Margin kotor perusahaan juga diperkirakan tetap terjaga di kisaran 75% untuk kuartal kedua dan ketiga.
Sementara itu, pelaku pasar juga bersiap menantikan data inflasi terbaru Amerika Serikat yang akan segera dirilis.
Indeks dolar AS yang stabil di level 98,934 menunjukkan sikap hati-hati investor menjelang simposium Jackson Hole di akhir pekan nanti.
Ketidakpastian fiskal AS dan akumulasi utang pemerintah terus menjadi perhatian utama para ekonom global saat ini.


