Jakarta, Gonesia.com – Investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp350,7 miliar di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026.
Tekanan jual dari pelaku pasar luar negeri tersebut juga terlihat dari volume transaksi yang mencapai 1,97 miliar lembar saham.
Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan di lantai bursa mencatatkan nilai transaksi harian sebesar Rp14,3 triliun.
Kondisi pasar saham yang tergabung dalam indeks LQ45 terpantau bergerak dalam rentang yang relatif tenang di dua kelompok besar.
PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) muncul sebagai emiten dengan performa paling menonjol di kelompok pertama setelah mencatatkan kenaikan harga sebesar 1,32 persen.
Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mengalami tekanan jual paling signifikan dengan koreksi harga mencapai 1,34 persen.
Penurunan tersebut diikuti oleh PT Bank Tabungan Negara (BBTN) yang menyusut 1,22 persen pada penutupan perdagangan.
Sementara itu, pergerakan harga saham PT Trimegah Bangun Persada (NCKL), PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), serta PT Indofood Sukses Makmur (INDF) cenderung stagnan.
Beralih ke kelompok saham lainnya, PT Indika Energy (INDY) berhasil memimpin penguatan dengan apresiasi harga sebesar 1,87 persen.
Berbanding terbalik, PT Barito Pacific (BRPT) justru menjadi pemberat indeks dengan penurunan harga sebesar 1,59 persen.
Koreksi juga dialami oleh PT Darma Henwa (DEWA) yang melemah 1,31 persen dan PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) yang terkoreksi 1,20 persen.
Data yang dihimpun dari Pusat Data Kontan dan RTI menunjukkan bahwa PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) tetap memegang status dengan rasio harga terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) terendah di antara 20 saham yang dipantau, yakni di level 0,37 kali.
Analisis rasio fundamental menjadi perhatian investor dalam menilai valuasi saham-saham tersebut saat ini.
Rasio harga berbanding laba atau Price Earning Ratio (PER) digunakan untuk menunjukkan berapa kali lipat harga saham dibandingkan dengan laba bersih per sahamnya.
Selain itu, rasio PBV menjadi instrumen penting untuk membandingkan harga saham dengan nilai aset bersih perusahaan per saham.
Pergerakan indeks domestik ini terjadi di tengah sentimen global di mana Wall Street sedang mengalami penguatan.
Optimisme di pasar Amerika Serikat tersebut didukung oleh rebound saham sektor teknologi menjelang rilis kinerja keuangan Nvidia.
Investor di pasar domestik kini menanti perkembangan lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter dan rilis kinerja emiten kuartal berjalan.
Konsistensi investor asing dalam melakukan aksi jual menjadi sinyal yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar lokal dalam jangka pendek.
Meski demikian, volatilitas di sejumlah saham berkapitalisasi besar menunjukkan adanya rotasi portofolio yang aktif di tengah kondisi pasar yang relatif tenang.


