JAKARTA, Gonesia.com – Pemerintah Indonesia secara resmi menargetkan penghentian total impor minyak dan LPG dalam jangka waktu tiga tahun ke depan sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Instruksi tegas tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam peluncuran program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) di Bali pada Selasa (25/8).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan kesiapannya untuk mengeksekusi mandat kepala negara tersebut secara penuh.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa jajarannya telah menyusun langkah-langkah konkret guna merealisasikan target tersebut.
“Ya kalau perintah Presiden, kami harus melaksanakan,” kata Laode saat ditemui di kompleks DPR RI, Rabu (26/8), sebagaimana dikutip dari laporan Katadata.
Keyakinan pemerintah didasarkan pada progres implementasi kebijakan biodiesel 50% yang saat ini terus berjalan di sektor domestik.
Selain itu, beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan sejak awal tahun ini dianggap sebagai katalisator penting bagi pemenuhan suplai bahan bakar dalam negeri.
Pemerintah juga tengah menggenjot aktivitas eksplorasi migas secara masif untuk menemukan cadangan baru yang dapat meningkatkan produksi nasional.
“(Kami juga) berupaya melakukan eksplorasi yang cukup besar untuk minyak dan gas, termasuk (ada) temuan-temuan baru. Kami optimis lah,” ujarnya.
Presiden Prabowo menekankan bahwa ketergantungan pada impor energi harus diakhiri demi menjaga kedaulatan ekonomi negara dari guncangan global.
“Kita tidak boleh impor lagi satu barel pun minyak. Kita tidak boleh impor lagi, Insyaallah dalam waktu sesingkat-singkatnya, satu tabung LPG pun kita tidak boleh impor lagi,” kata Prabowo dikutip dari Antara.
Ambisi besar ini akan didukung oleh integrasi berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, panas bumi, hingga optimalisasi ladang gas.
Proyek PLTS 100 GW diproyeksikan menjadi tulang punggung transisi energi nasional dalam tiga tahun ke depan.
Kapasitas tambahan sebesar 100 GW tersebut bahkan melampaui total kapasitas pembangkit listrik nasional saat ini yang tercatat mencapai 88 GW.
Presiden menilai pembangunan infrastruktur energi terbarukan ini merupakan cerminan dari semangat Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri.
“Untuk sebagai bayangan, seluruh listrik Indonesia sekarang 88 gigawatt dari batu bara, minyak, gas, hingga geotermal. Kita akan membangun 100 gigawatt dan kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun,” kata Prabowo.
Ia menambahkan bahwa peningkatan lifting minyak nasional tetap menjadi agenda prioritas yang harus berjalan beriringan dengan pengembangan energi hijau.
Strategi ini diharapkan dapat menekan defisit neraca perdagangan yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya impor energi.
Pemerintah optimistis kombinasi antara efisiensi energi dan peningkatan produksi hulu migas akan mampu memenuhi kebutuhan domestik secara penuh.


