Jakarta – Pembangunan Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon–Semarang (CISEM) Tahap 2 menunjukkan kemajuan pesat, melampaui target awal. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat progres fisik proyek strategis nasional ini telah mencapai 86,1 persen, lebih cepat 1,3 persen dari rencana semula. Proyek vital ini ditargetkan rampung sesuai jadwal pada Maret 2026.
Koordinator Perencanaan Pembangunan Ditjen Migas, Sugiarto, menyatakan optimisme atas percepatan pengerjaan ini. “Progres saat ini berada di 86,1 persen, sementara rencana semula 84,8 persen. Artinya, pengerjaan lebih cepat dari jadwal. Kami optimistis proyek ini selesai sesuai kontrak pada Maret 2026,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Pipa gas CISEM Tahap 2 akan membentang sepanjang kurang lebih 245 kilometer. Infrastruktur ini bertujuan menyalurkan gas dari Jawa Timur ke Jawa Barat, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dan menurunkan biaya distribusi gas.
Lebih lanjut, proyek ini diharapkan memperluas akses gas bagi masyarakat dan industri di Pulau Jawa. Kehadiran pipa ini akan menciptakan sistem transmisi gas yang terintegrasi dari Riau hingga Jawa Timur.
Dengan integrasi tersebut, pasokan gas dari berbagai sumber, termasuk temuan baru di Jawa Tengah, dapat dialirkan secara efisien ke wilayah dengan kebutuhan tinggi seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Selain progres teknis, pemerintah juga menekankan akuntabilitas administrasi proyek. Kepala Biro Keuangan Direktorat Jenderal Migas, Ari Gemini Parbinoto, menyebut pengawasan dilakukan ketat, termasuk melalui audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Fokus kami tidak hanya pada progres fisik, tapi juga memastikan administrasi dan dokumentasi tertib sesuai aturan,” tegas Ari.
Pemerintah terus mempercepat proyek melalui koordinasi lintas instansi, termasuk pembahasan tarif dan skema komersial. Dukungan pemerintah pusat maupun daerah sangat krusial agar manfaat gas bumi segera dirasakan masyarakat dan industri di Pulau Jawa.
Jika sesuai target, Pipa CISEM Tahap 2 akan menjadi tulang punggung distribusi gas nasional. Keberadaan proyek ini tidak hanya menjaga ketersediaan energi, tetapi juga menekan biaya transportasi dan menghadirkan harga gas yang lebih kompetitif.
“Infrastruktur ini juga bisa memperluas jaringan gas kota, mengurangi ketergantungan pada LPG, sekaligus mendorong pertumbuhan industri di Jawa,” tutup Ari.


