JAKARTA – Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan untuk kembali menunda penyesuaian indeks saham Indonesia. Langkah ini diambil seiring dengan diterapkannya serangkaian reformasi transparansi di pasar modal Indonesia yang kini tengah dievaluasi oleh penyedia indeks global tersebut.
MSCI menyatakan tengah mengkaji konsistensi, efektivitas sumber data, serta aturan baru terkait *free float* (saham beredar) dan aspek *investability* atau kelayakan investasi di pasar domestik.
“MSCI sedang menilai ruang lingkup dan efektivitas langkah-langkah baru tersebut dalam konteks penentuan *free float*,” tulis pihak MSCI dalam keterangan resminya, Senin (20/4/2026).
Sejalan dengan kebijakan tersebut, MSCI memutuskan untuk mempertahankan langkah-langkah yang telah ditetapkan pada Januari lalu dalam tinjauan indeks periode Mei 2026. Terdapat tiga kebijakan utama yang dipertahankan:
1. Membekukan seluruh peningkatan pada *Foreign Inclusion Factors* (FIF) dan *Number of Shares* (NOS).
2. Tidak menerapkan penambahan emiten baru dalam MSCI *Investable Market Indexes* (IMI).
3. Menghentikan migrasi kenaikan antarsegmen, termasuk perpindahan dari *Small Cap* ke *Standard Index*.
Selain itu, MSCI akan menghapus saham-saham yang teridentifikasi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi. Otoritas indeks tersebut juga berencana menggunakan data pemegang saham di atas 1 persen untuk menyesuaikan estimasi *free float*, sebuah langkah yang diklaim telah diterapkan di pasar negara lain.
Untuk membatasi perputaran indeks dan meminimalkan risiko, MSCI menegaskan tidak akan memasukkan data dari sumber atau aturan pengungkapan baru ke dalam penilaian *free float* hingga proses evaluasi tuntas. Saat ini, mereka masih menunggu masukan lebih lanjut dari para pelaku pasar.
MSCI berkomitmen untuk terus berinteraksi dengan otoritas pasar modal di Indonesia serta pemangku kepentingan terkait. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa ukuran data yang baru diperkenalkan dapat berjalan efektif dalam menentukan kriteria investabilitas dan *free float* saham.
Reformasi transparansi yang sedang disoroti MSCI sendiri mencakup sejumlah aspek penting, seperti pengungkapan pemegang saham di atas 1 persen, peningkatan rincian klasifikasi investor, serta pengungkapan kepemilikan saham dengan konsentrasi tinggi.

