Taipei, Gonesia.com – Ketangguhan Tati Purwanti, seorang mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan, kini menjadi simbol keberhasilan wirausaha diaspora yang mampu menembus pasar internasional melalui kuliner tradisional Bubur Cirebon.
Perjalanan panjang Tati dimulai lebih dari dua dekade lalu saat ia memutuskan merantau dari Indramayu demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya sebagai tulang punggung.
Setelah sempat kembali ke tanah air pada 2016 untuk merintis bisnis bubble tea yang terinspirasi dari tren di Taiwan, ia harus menghadapi tantangan berat akibat pandemi COVID-19 pada 2020.
Kondisi tersebut memaksanya untuk kembali ke Taipei, namun ia tidak menyerah dan justru melihat peluang baru dengan memperkenalkan cita rasa lokal Indonesia kepada masyarakat di sana.
“Waktu itu saya melihat bubble tea sudah banyak di Taiwan. Melihat peluang itu, saya coba membawa pengalaman yang saya dapat selama di sana. Alhamdulillah, apa yang saya pelajari akhirnya bisa saya coba di Indonesia,” ceritanya dalam keterangan resmi, Sabtu (12/9).
Keputusan untuk menjual bubur di tengah iklim Taiwan yang cenderung panas sempat memicu keraguan di awal langkahnya.
“Awalnya sempat ragu juga, Taiwan kan panas, apa orang mau makan bubur? Tapi saya pikir, kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu. Jadi waktu itu saya jalani saja dulu,” tuturnya.
Ketekunan tersebut membuahkan hasil manis, di mana kini usahanya mampu meraih omzet fantastis antara 30.000 NTD hingga 120.000 NTD per periode.
Selain mencapai kesuksesan finansial, ia kini turut memberdayakan sesama warga negara Indonesia yang bekerja di Taiwan sebagai bentuk solidaritas sesama perantau.
Ia mengakui bahwa peran layanan perbankan menjadi sangat vital dalam menjaga kelancaran roda bisnisnya di luar negeri.
“Hasil penjualan yang masih tunai bisa saya setorkan melalui BRI Taipei, dan sekarang pelanggan juga mulai bisa bayar lewat QR Payment. Saya tidak pernah membayangkan perjalanan saya bisa sampai di tahap ini, dan sejauh ini petugas BRI Taiwan sangat membantu,” kata dia.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa kisah Tati merupakan bukti konkret potensi besar PMI untuk bertransformasi menjadi wirausahawan mandiri.
“Perjalanan dari seorang pekerja migran hingga mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membuka peluang bagi sesama masyarakat Indonesia merupakan wujud nyata dari semangat pemberdayaan yang ingin terus kami dorong,” ujar Hery.
Pihaknya berkomitmen untuk terus menghadirkan ekosistem layanan keuangan yang relevan bagi para diaspora Indonesia di luar negeri.
“Kehadiran BRI di Taiwan adalah tentang hadir lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di Taiwan. Kami ingin BRI menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan finansial di Taiwan dengan keluarga dan berbagai kebutuhan di Indonesia,” lanjutnya.
Sebagai langkah strategis, BRI kini telah meluncurkan aplikasi BRImo Taiwan untuk memudahkan transaksi perbankan secara digital selama 24 jam penuh.
Layanan ini diharapkan mampu memangkas waktu pengiriman uang atau remitansi dari Taiwan menuju Indonesia agar lebih efisien bagi nasabah.
Hingga akhir Juli 2026, kantor perwakilan BRI di Taipei mencatatkan total aset yang mencapai angka lebih dari USD408 juta.
Data tersebut menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi diaspora Indonesia di Taiwan dengan nilai transaksi remitansi mencapai USD490 juta yang melayani lebih dari 3.400 rekening aktif.


