Palembang, Gonesia.com – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Sumatra Selatan, kini menempatkan populasi gajah sumatra dalam kondisi krisis akibat degradasi habitat yang masif.
Data resmi dari Kementerian Kehutanan pada Rabu (23/9) mengonfirmasi bahwa api telah menghanguskan setidaknya 2.300 hektare lahan di kawasan konservasi tersebut sejak akhir Agustus lalu.
Meskipun 29 ekor gajah binaan di Pusat Konservasi Gajah Jalur 21 dilaporkan masih dalam kondisi sehat, otoritas tetap mewaspadai potensi dampak berantai terhadap ekosistem.
“Di PKG Jalur 21 terdapat 29 gajah binaan dan hasil pemantauan menunjukkan seluruhnya masih dalam kondisi baik dan belum mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla,” tulis Kementerian Kehutanan dalam laman resminya.
Pemerintah pusat melalui Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi kebakaran pada pekan lalu guna mengevaluasi situasi di lapangan.
Analisis dari organisasi konservasi Geopix menempatkan kantong gajah Padang Sugihan-Lebong Hitam-Simpang Heran sebagai zona dengan tingkat kerawanan karhutla tertinggi di Sumatra.
Sepanjang periode Juni hingga 8 September 2026, tercatat sebanyak 2.542 titik panas terkonsentrasi di wilayah tersebut.
Lonjakan titik panas mencapai puncaknya pada September dengan angka 1.547 titik, yang secara langsung mengancam populasi gajah liar dan binaan di kawasan seluas 600 ribu hektare itu.
Wilayah ini merupakan salah satu dari 21 kantong gajah terakhir yang tersisa di Pulau Sumatra dengan estimasi populasi mencapai 101 hingga 200 individu.
Secara akumulatif, Geopix mendeteksi 4.595 titik panas di seluruh kantong gajah di Sumatra dalam periode yang sama, atau setara dengan 12,08 persen dari total 38 ribu titik panas di pulau tersebut.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyoroti bahwa ancaman kebakaran hutan melampaui sekadar polusi udara bagi manusia.
“Di balik itu semua ada masyarakat yang sesak dan ada satwa liar seperti gajah sumatra yang terancam, semakin menderita dan kehilangan tempat untuk bertahan hidup,” ujar dia.
Selain Padang Sugihan, ancaman serupa juga membayangi habitat di Bukit 30 Tebo Serangge, Lalan-Sembilang, dan Benakat Semangus.
Kualitas udara di kantong habitat tersebut terpantau berada pada level tidak sehat hingga sangat tidak sehat yang memicu tekanan fisiologis bagi satwa mamalia besar tersebut.
Gajah sumatra diketahui sangat rentan terhadap paparan asap karena memiliki kebutuhan ventilasi dan frekuensi pernapasan yang tinggi.
Selain ancaman pernapasan, ketersediaan air menjadi isu krusial karena setiap gajah membutuhkan asupan air hingga 160 liter per hari.
“Pada musim kemarau, bahkan diketahui dapat menggali dasar sungai yang mengering untuk memeroleh air. Karena itu, dampak kebakaran terhadap gajah perlu dilihat secara lebih luas,” lanjutnya.
Fragmentasi habitat akibat kebakaran juga memaksa gajah untuk mengubah pola pergerakan alami mereka yang berisiko meningkatkan konflik dengan manusia.
Geopix mendesak pemerintah untuk memperketat penegakan hukum dan mewajibkan pelaku pembakaran untuk memulihkan ekosistem yang rusak.
“Harus ada sinergitas kebijakan-kebijakan lintas sektor yang mempertimbangkan perlindungan dan pemulihan habitat satwa liar yang hilang dan risiko-risiko ikutan lainnya akibat karhutla ini,” tegasnya.
Organisasi tersebut juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap program perhutanan sosial agar tidak disalahgunakan untuk ekspansi tanaman monokultur yang merusak bentang alam.


