Jakarta, Gonesia.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan menghadapi tekanan jual yang signifikan pada perdagangan hari ini, Jumat (11/9), melanjutkan tren koreksi yang terjadi sepanjang sesi sebelumnya.
Analisis dari MNC Sekuritas menunjukkan bahwa IHSG berada dalam fase penurunan teknikal yang kuat setelah pada perdagangan Kamis (10/9) indeks tercatat melemah sebesar 1,33% ke level 6.589.
Ia memproyeksikan indeks akan kembali menguji area koreksi yang lebih dalam di kisaran level 6.505 hingga 6.584.
“Area penguatan IHSG diperkirakan berada di 6.737–6.837,” tulis Herditya Wicaksana dalam risetnya, Jumat (11/9).
Pihaknya menetapkan target support IHSG berada pada rentang 6.561 hingga 6.476 sebagai titik pijakan harga jika tekanan jual terus berlanjut.
Sementara itu, level resistance ditetapkan berada pada kisaran 6.705 hingga 6.755 yang menjadi batasan atas bagi pergerakan indeks.
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif ini, investor disarankan untuk mencermati strategi buy on weakness pada saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA).
Ia menyarankan akumulasi pembelian pada rentang harga Rp 695–Rp 705 dengan target harga di level Rp 730–Rp 760 serta batasan stoploss di bawah Rp 690.
Selain itu, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) juga masuk dalam daftar rekomendasi dengan area beli di rentang Rp 25.800–Rp 26.225.
Target harga untuk saham tersebut dipatok pada level Rp 27.400–Rp 27.925 dengan memperhatikan stoploss di bawah Rp 25.475.
Sentimen negatif pasar diperkuat oleh indikator teknikal dari Phintraco Sekuritas yang mencatat bahwa IHSG telah ditutup di bawah rata-rata pergerakan lima hari (MA5) dan sepuluh hari (MA10).
Indikator MACD dan Stochastic RSI saat ini dilaporkan telah membentuk pola death cross yang mengindikasikan momentum pelemahan masih dominan.
Indeks diperkirakan akan menguji rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) pada level 6.525 sebagai titik krusial.
Jika level tersebut gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support baru di kisaran 6.400–6.460.
Dari sisi fundamental, data penjualan ritel Indonesia menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,1% secara tahunan pada Juli 2026.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor makanan, minuman, dan tembakau yang berhasil bangkit dengan kenaikan 2,4%.
Namun, ia menambahkan bahwa performa penjualan suku cadang otomotif mengalami perlambatan signifikan menjadi 5,1% dari sebelumnya 18,8%.
“Penjualan ritel secara bulanan turun 0.1% MoM di Agustus 2026 dari kenaikan 0.7% MoM,” ujarnya dalam analisis tersebut.
Faktor fiskal juga menjadi perhatian utama di tengah defisit APBN yang tercatat mencapai Rp 235,6 triliun hingga Juli 2026.
Meski pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup dengan target defisit 2,85% terhadap PDB, risiko pelebaran defisit tetap mengintai.
Ketidakpastian harga minyak dunia dan tantangan efisiensi pengelolaan anggaran pemerintah menjadi variabel yang memengaruhi kepercayaan investor.
Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati meliputi PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).
Selain itu, investor juga disarankan memantau pergerakan saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dan PT Astra International Tbk (ASII).
Sebagai pelengkap, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) turut masuk dalam daftar pantauan di tengah kondisi pasar yang menantang ini.


