Jakarta, Gonesia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan komoditas bensin tetap menjadi penyumbang utama inflasi pada Juli 2026 meski harga bahan bakar minyak nonsubsidi sempat mengalami penyesuaian penurunan di awal bulan.
Data resmi menunjukkan bahwa inflasi pada kelompok transportasi tercatat sebesar 0,52% secara bulanan atau month-to-month.
Sektor transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,06% terhadap total indeks harga konsumen nasional.
Komoditas bensin sendiri tercatat memberikan andil inflasi paling signifikan dalam kelompok tersebut, yakni sebesar 0,08%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan fenomena ini dipicu oleh efek basis atau base effect dalam perhitungan statistik bulanan.
“Teman-teman media, mengapa bensin mengalami inflasi secara month-to-month padahal harga BBM nonsubsidi turun pada 1 Juli 2026? Ini terutama disebabkan karena adanya base effect,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (3/8).
Ia memaparkan bahwa perbandingan harga rata-rata bensin sepanjang Juli masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata harga pada periode Juni 2026.
Sebagai ilustrasi, harga Pertamax pada periode 1 hingga 9 Juni 2026 masih berada di kisaran harga Rp12.000 per liter.
“Jika Juli dibandingkan dengan rata-rata harga pada Juni, harganya masih lebih tinggi sehingga bensin masih mengalami inflasi secara rata-rata bulanannya,” kata dia.
Selain bensin, tekanan inflasi pada kelompok transportasi juga disumbang oleh kenaikan harga sepeda motor.
Komoditas pelumas atau oli mesin turut memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01%.
Secara keseluruhan, BPS mencatatkan kondisi deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026.
Tren inflasi secara tahunan juga terpantau melandai dibandingkan bulan sebelumnya.
Tingkat inflasi tahunan turun dari 3,34% pada Juni menjadi 2,28% pada Juli 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru menjadi motor utama terjadinya deflasi bulanan.
Kelompok tersebut mencatatkan tingkat deflasi sebesar 0,89% dengan andil deflasi mencapai 0,26%.
Sementara itu, sektor pendidikan juga tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,03% terhadap total indeks.
Pemerintah terus memantau pergerakan harga komoditas energi agar tidak memberikan dampak guncangan yang berlebihan bagi daya beli masyarakat.
Meskipun terdapat disparitas harga antarwaktu, stabilitas harga secara umum tetap terjaga.
Data statistik ini menjadi acuan penting bagi para pemangku kebijakan dalam menentukan arah ekonomi nasional ke depan.
Kondisi ekonomi Indonesia pada Juli 2026 menunjukkan dinamika yang kompleks antara penurunan harga pangan dan fluktuasi harga energi.
Analisis mendalam terhadap base effect menjadi kunci dalam memahami mengapa inflasi transportasi tetap muncul di tengah penurunan harga BBM nonsubsidi.
Pihak otoritas statistik akan terus melakukan pemutakhiran data secara berkala guna memberikan gambaran akurat terkait kondisi inflasi nasional.


