Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih dibayangi tekanan jual yang sangat besar dan dinilai berisiko kembali menyentuh auto rejection bawah (ARB). Jika tren pelemahan berlanjut, harga saham emiten teknologi itu bahkan diperkirakan bisa turun hingga Rp 27, lalu merosot lebih jauh ke Rp 1.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut penurunan GOTO tak semata dipicu sentimen pasar. Menurut dia, persoalan utama justru ada pada ketidakseimbangan ekstrem antara pasokan saham yang ditawarkan dan transaksi yang benar-benar terserap pasar.
Ia menjelaskan, pada hari pertama perdagangan setelah batas harga minimum saham dipatok menjadi Rp 1, antrean jual GOTO tercatat sekitar 1 miliar lot. Dari jumlah itu, hanya sekitar 1,2 juta lot yang berhasil berpindah tangan pada harga ARB Rp 43.
Artinya, hanya sekitar 0,12 persen dari seluruh antrean yang terserap. Dengan kondisi seperti itu, dibutuhkan sekitar 833 hari bursa untuk menghabiskan antrean jual tersebut jika situasinya tidak berubah.
“Namun angkanya menunjukkan bahwa masalah GOTO bukan sekadar sentimen, melainkan ketidakseimbangan supply-demand yang sangat ekstrem,” kata Liza dalam keterangannya, dikutip Selasa (29/9).
Pada hari kedua, antrean jual masih sangat tebal, yakni sekitar 842 juta lot. Sementara transaksi yang terjadi hanya 1,8 juta lot di harga ARB Rp 37. Secara persentase, serapan pasar baru sekitar 0,21 persen, sehingga secara matematis dibutuhkan sekitar 468 hari bursa atau hampir dua tahun agar seluruh antrean itu terserap.
Liza menegaskan, hitungan tersebut bukanlah ramalan harga GOTO ke depan. Sebab, antrean jual dapat berubah sewaktu-waktu karena investor bisa menarik atau menambah order.
Meski begitu, perhitungan itu menurut dia memperlihatkan betapa timpangnya kondisi permintaan dan penawaran saat ini. “Artinya yang punya saham GOTO puluhan juta lot bakal kurus kering menunggu jemurannya laku,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan, jika GOTO terus terkena ARB setiap hari, secara mekanis harga saham itu bisa saja turun sampai Rp 1 dalam sekitar 19 hari bursa. Itu setara dengan kurang lebih empat pekan perdagangan, atau mendekati akhir Oktober 2026, dengan asumsi tidak ada libur bursa, penghentian perdagangan, maupun perubahan aturan.
Namun, menurut Liza, skenario sampai Rp 1 dalam waktu singkat juga menjadi sinyal psikologis yang patut dicermati pelaku pasar. Dari posisi sekarang, kata dia, harga GOTO bahkan hanya butuh sekitar dua kali ARB lagi untuk mencapai Rp 27.
Dalam simulasi lain, jika penurunan berlanjut hingga Rp 1 dan rata-rata transaksi harian berada di kisaran 1,5 juta sampai 2 juta lot, total saham yang terserap sepanjang fase turun dari Rp 50 ke Rp 1 hanya sekitar 31,5 juta hingga 41 juta lot.
Angka itu setara dengan sekitar 3,2 persen sampai 4,1 persen dari antrean jual awal yang mencapai 1 miliar lot. Dengan demikian, masih ada sekitar 96 persen pasokan yang belum terserap apabila antrean tersebut tidak ditarik atau dialihkan.
Kondisi ini menunjukkan harga saham bisa jatuh jauh lebih cepat daripada kemampuan pasar menyaring order jual. “Waktu stuck di Rp 50, setidaknya harganya masih Rp 50. Sekarang floor price dibuka, harga terancam turun ke Rp 1 kalau tidak ada yang mau beli,” kata Liza.
Situasi itu, lanjut dia, juga penting dicermati investor institusi yang memegang GOTO dalam jumlah besar. Dengan antrean jual yang begitu tebal dan volume transaksi harian yang relatif kecil, pemegang puluhan juta lot berpotensi membutuhkan waktu sangat panjang untuk keluar dari saham tersebut bila kondisi pasar tak membaik.
Liza turut menyinggung investor yang sempat membeli GOTO di harga Rp 25 dengan harapan memperoleh keuntungan cepat. Begitu saham kembali terseret ARB dan antrean jual membengkak, investor seperti itu justru akan kesulitan melepas sahamnya.
Pada perdagangan hari ini, saham GOTO kembali anjlok dan terkena ARB 13,95 persen atau turun 6 poin ke level 37. Antrean jual tercatat mencapai 957,21 juta lot dengan nilai sekitar Rp 6,89 triliun.
Saham GOTO sendiri telah merosot dua hari berturut-turut setelah Bursa Efek Indonesia menurunkan batas harga minimum saham menjadi Rp 1 dari sebelumnya Rp 50.


