New York – Penguatan Dolar AS kembali menekan mata uang dunia setelah Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,22 persen dan ditutup di level 99,516 pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Kenaikan ini memperlihatkan Greenback masih menjadi poros utama pergerakan pasar valas global.
Tekanan paling besar terasa pada Yen Jepang. Mata uang Negeri Sakura itu ambles setelah Dolar AS bertambah 0,07 persen dan mendorong kurs menembus level psikologis 160,015 Yen per Dolar AS. Lonjakan tersebut sekaligus menghapus dampak intervensi valas Jepang senilai 73 miliar Dolar AS yang digelontorkan bulan lalu.
Meski Bank of Japan telah menyampaikan peringatan verbal dan memberi sinyal kebijakan yang lebih hawkish, pasar tetap menilai kekuatan Dolar terlalu dominan untuk dilawan. Bagi Jepang, situasi ini makin berat karena negara itu bergantung pada impor energi, sementara harga minyak mentah global ikut terdorong naik akibat konflik di Teluk.
Efek penguatan Dolar tidak berhenti di Yen. Mata uang utama lain maupun mata uang komoditas juga ikut melemah. Euro terkoreksi 0,27 persen menjadi 1,15995 Dolar AS, sedangkan Poundsterling turun 0,34 persen ke level 1,3419 Dolar AS.
Dalam kelompok mata uang komoditas, Dolar Selandia Baru justru menjadi yang paling tertekan setelah anjlok 1,02 persen ke 0,5865 Dolar AS. Dolar Australia turut melemah 0,69 persen menjadi 0,713 Dolar AS.
Memanasnya situasi Timur Tengah dan naiknya harga energi kini ikut mengubah arah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter global. Jika sebelumnya pemangkasan suku bunga sempat dipandang memungkinkan, pelaku pasar kini mulai memperhitungkan langkah pengetatan lanjutan untuk menahan laju inflasi.
Faktor lain yang memperkuat Dolar AS datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Lonjakan lowongan kerja yang tercatat sebagai yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, ditambah rilis data nonfarm payrolls yang segera menyusul, dinilai dapat kembali memberi tenaga bagi Greenback.
Pasar bahkan telah memasukkan sepenuhnya skenario kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Maret tahun depan, dengan catatan pasar tenaga kerja AS tetap menunjukkan ketahanan.

