Makkah – Optimalisasi area komersial di hotel jemaah haji Indonesia pada musim haji 1447 H/2026 M berbuah kenaikan pendapatan, meski jumlah tenant dan unit usaha justru mengalami penyesuaian. Penguatan kerja sama Kementerian Haji dan Umrah RI dengan BPKH Limited menjadi faktor utama yang mendorong pengelolaan area komersial lebih produktif.
Data pengelolaan menunjukkan, pada musim haji 1447 H/2026 M tercatat 44 tenant dengan 61 unit usaha. Angka itu lebih rendah dibanding musim sebelumnya yang mencapai 46 tenant dan 82 unit usaha, namun nilai pendapatan tetap meningkat.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, menegaskan bahwa keberhasilan optimalisasi tidak diukur dari banyaknya tenant semata. Yang lebih penting, kata dia, adalah seberapa efektif area dimanfaatkan dan seberapa tinggi produktivitas pengelolaannya.
“Optimalisasi area komersial hotel jemaah haji diarahkan untuk menciptakan pengelolaan yang lebih produktif, efektif, dan berkelanjutan sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar,” ujarnya, Senin (01/06/2026).
Ia menjelaskan, penataan tenant dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan jemaah, mutu layanan, serta peluang kontribusi bagi penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah. Dari situ, pengelolaan area komersial diarahkan agar lebih tepat sasaran.
“Meskipun secara kuantitas tenant mengalami penurunan, hasil yang diperoleh justru meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan area komersial semakin optimal dan tepat sasaran,” kata Jaenal.
Dalam skema kerja sama itu, Kemenhaj bertindak sebagai regulator. Perannya meliputi penetapan tarif dasar, persetujuan titik lokasi, serta dukungan regulasi dan akses layanan.
Pada program area komersial musim haji 1447 H/2026 M, tersedia 61 unit usaha yang terdiri atas 31 restoran dan 30 baqalah atau retail. Seluruhnya tersebar di lima wilayah operasional, yakni Syisyah, Raudhah, Jarwal, Misfalah, dan Aziziyah. Selain itu, ada dua unit usaha kargo yang mendukung layanan logistik dan pengiriman barang jemaah.
Pengembangan area komersial ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah. Pemanfaatan ruang dibuat lebih produktif, kualitas layanan ditingkatkan, dan kebutuhan jemaah Indonesia di Arab Saudi tetap menjadi perhatian utama.
Berdasarkan data per 11 Mei 2026, peningkatan pendapatan tersebut ikut dibarengi bertambahnya diversifikasi jenis usaha. Jika pada tahun sebelumnya hanya ada dua jenis usaha, maka pada musim haji 1447 H/2026 M jumlahnya berkembang menjadi lima jenis usaha.

