Yogyakarta – Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyoroti nasib PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) yang disebutnya tengah menghadapi masalah serius dan berpotensi ditutup jika tak kunjung membaik.
Saat berbicara di Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Dony menyebut PT INTI sebagai salah satu BUMN yang dulu dikenal luas, khususnya di Bandung. Namun, perusahaan teknologi pelat merah yang berdiri sejak 30 Desember 1974 itu kini berada dalam kondisi sulit.
“Kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal, sekarang menghadapi permasalahan, mungkin akan kita tutup juga,” kata Dony, seperti dikutip pada Senin, 25 Mei 2026.
PT INTI pernah menjadi penopang penting infrastruktur telekomunikasi nasional. Meski begitu, sampai sekarang perusahaan tersebut masih menjalankan produksi kabel serat optik, tabung LPG composite, hingga perakitan perangkat cerdas seperti smart energy devices, produk broadband, dan kartu cerdas.
Dony menjelaskan, kesulitan utama dalam menyelamatkan BUMN yang nyaris kolaps terletak pada ketiadaan mekanisme untuk saling menopang antarsesama perusahaan negara. Dalam aturan sebelumnya, Kementerian BUMN hanya berperan sebagai pengelola, bukan pemilik langsung, sehingga perusahaan yang masih sehat tidak bisa membantu BUMN yang sedang terpuruk.
“Tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dan BUMN lain, sehingga sulit untuk kita melakukan perbaikan,” ujarnya.
Menurut Dony, kehadiran Danantara diharapkan menjadi jalan keluar menyeluruh. Dengan seluruh BUMN dikonsolidasikan ke dalam satu holding company, hambatan birokrasi yang selama ini membatasi langkah penyehatan perusahaan negara disebut akan berkurang, bahkan hilang.

