Banjarmasin, Gonesia.com – Krisis listrik yang melanda wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah memasuki fase krusial seiring dengan belum tuntasnya perbaikan sejumlah unit pembangkit hingga Kamis (6/8).
Gangguan pada sistem kelistrikan ini mengakibatkan pemadaman bergilir yang berlangsung tidak menentu, bahkan memicu keluhan luas dari masyarakat di berbagai daerah.
Anidya Laras, seorang warga Rantau, Kalimantan Selatan, mengungkapkan bahwa lingkungan tempat tinggalnya masih mengalami pemadaman rutin setiap dua hari sekali.
Ia mencatat pemadaman terakhir terjadi pada Selasa (4/8) sejak pukul 15.00 hingga 19.00 WITA.
Menurut dia, pola pemadaman yang acak sangat mengganggu aktivitas rumah tangga maupun produktivitas pekerjaan sehari-hari.
Dia menyatakan kondisi ini sempat menunjukkan perbaikan pada minggu kedua Juli, namun situasi kembali memburuk setelahnya.
“Kondisinya sempat membaik sedikit pada minggu kedua Juli. Setelah itu kembali terjadi pemadaman listrik yang lebih parah,” kata dia kepada Katadata, Rabu (5/8).
Ia menyesalkan minimnya informasi resmi dari pihak PLN yang membuat warga terpaksa mengandalkan informasi dari grup komunitas lokal.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Titik Lisdawati, warga Kalimantan Selatan lainnya yang harus menghadapi pemadaman selama empat jam dalam satu hari.
Ia menyebutkan dalam seminggu, intensitas pemadaman bisa mencapai empat kali, yang berdampak signifikan terutama pada aktivitas di malam hari.
“Dalam seminggu ada empat hari mati lampu, durasinya selama 4 jam,” ujar dia.
Di wilayah Kalimantan Tengah, tepatnya di Parenggean, Kotawaringin Timur, warga bernama Desy Suseno mengaku pemadaman rutin terjadi sejak bulan lalu hingga awal Agustus.
Ia menyoroti ketidaksesuaian jadwal pemadaman yang diumumkan PLN dengan realita di lapangan yang sering kali meleset.
“Sebagai warga Indonesia, pastinya berharap lebih baik lagi dalam pelayanan PLN. Terlebih dampak yang terjadi sangat mengganggu aktivitas dan memperburuk perekonomian masyarakat,” tutur dia.
Menanggapi keluhan tersebut, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Iwan Soelistijono, menjelaskan bahwa gangguan terjadi pada generator PLTU Asam-Asam serta kebocoran pipa boiler dan turbin pada dua unit pembangkit milik Independent Power Producer (IPP).
Dia menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya mempercepat pemulihan unit pembangkit guna menjaga keandalan sistem interkoneksi Kalimantan.
“Bersama pengelola pembangkit dan seluruh pemangku kepentingan, PLN mengerahkan personel terbaik serta memperkuat koordinasi teknis agar pasokan listrik di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat segera kembali optimal,” kata dia.
Pihak PLN menargetkan pemulihan pada SKS Listrik Kalimantan rampung pada 5 Agustus 2026, sementara pemeliharaan PLTU Asam-Asam dijadwalkan selesai pada 29 Agustus 2026.
Persoalan ini bahkan telah menarik perhatian Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk segera melakukan langkah mitigasi terukur.
Bahlil mengakui adanya kekurangan dalam pemeliharaan fasilitas kelistrikan serta gangguan pada jaringan induk yang menjadi penyebab utama pemadaman berkepanjangan.
“Kami harus akui di beberapa wilayah, khususnya di Kalimantan, masih ada pemadaman beberapa titik. Karena itu Bapak Presiden memerintahkan kepada saya untuk segera melakukan langkah-langkah yang terukur dengan PLN agar bisa menyelesaikan dengan baik,” ujar dia.
Pemerintah menargetkan gangguan pasokan listrik di wilayah tersebut dapat segera teratasi dalam waktu dekat guna meminimalisir dampak ekonomi bagi masyarakat.


