JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% diprediksi akan menahan laju pertumbuhan industri perbankan nasional. Tekanan eksternal serta potensi melambatnya penyaluran kredit menjadi tantangan utama yang membatasi ruang gerak profitabilitas bank.
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyatakan bahwa meski sektor perbankan masih ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik yang kuat, prospek pertumbuhannya ke depan cenderung tertahan. Ia memperkirakan margin bunga bersih atau *net interest margin* (NIM) perbankan berisiko tertekan akibat kenaikan suku bunga dan ketidakpastian global.
Dalam kondisi ini, Myrdal menyarankan perbankan untuk lebih selektif dalam memilih sektor pembiayaan yang mampu memberikan imbal hasil lebih tinggi. Perbankan juga diminta menjaga iklim suku bunga agar tetap kondusif bagi nasabah.
Senada dengan hal tersebut, Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS), Banjaran Surya Indrastomo, menilai sektor perbankan memang masih memiliki ketahanan, namun harus menghadapi tantangan yang lebih menantang. Dalam jangka pendek, kenaikan biaya dana dan risiko melambatnya pertumbuhan kredit menjadi perhatian utama.
Banjaran menambahkan, realisasi pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan pemerintah perlu dicermati secara realistis, terutama jika suku bunga tinggi bertahan dalam waktu yang lama. Kenaikan BI Rate di satu sisi memang memperkuat stabilitas moneter, namun di sisi lain berkonsekuensi pada peningkatan beban bunga utang dan biaya kredit.
Menghadapi dinamika tersebut, perbankan diimbau untuk lebih proaktif dalam memperkuat struktur pendanaan dan menjaga bantalan likuiditas. Langkah penyaluran pembiayaan secara pruden (hati-hati) menjadi kunci utama agar fungsi intermediasi dan profitabilitas industri tetap terjaga di tengah kondisi makro ekonomi yang menantang.

