Jakarta – Konsumsi ultra processed food atau UPF yang kerap dianggap praktis ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak kecil. Sejumlah penelitian mengaitkan makanan olahan tingkat tinggi ini dengan obesitas, diabetes, penyakit jantung, hingga kanker jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.
UPF merujuk pada makanan yang diproduksi melalui proses industri kompleks dengan bantuan berbagai bahan tambahan, mulai dari pengawet, pemanis buatan, pewarna, sampai perasa sintetis. Produk semacam ini dibuat agar awet, mudah dikonsumsi, dan memiliki cita rasa yang kuat.
Berdasarkan penjelasan Kementerian Kesehatan RI, istilah ultra processed food berasal dari klasifikasi NOVA, yakni sistem yang membagi makanan berdasarkan tingkat pengolahannya. UPF berada di level paling tinggi, karena bahan asli di dalamnya sudah banyak berubah, bahkan nyaris tidak tersisa.
Beberapa produk yang masuk kategori ini antara lain minuman bersoda, sosis, nugget, keripik, roti kemasan, serta makanan beku siap saji. Karakter utamanya adalah penggunaan bahan tambahan yang jarang dipakai dalam masakan rumahan.
Dari sisi kesehatan, UPF disebut dapat memicu kenaikan berat badan. Makanan jenis ini umumnya tinggi kalori, gula, dan lemak, tetapi minim serat. Kombinasi tersebut membuat seseorang cenderung makan lebih banyak tanpa cepat merasa kenyang.
Risiko lain muncul pada kesehatan jantung. Kandungan garam dan lemak trans dalam UPF dapat menaikkan tekanan darah sekaligus meningkatkan kolesterol jahat. Jika kebiasaan itu berlangsung terus-menerus, penyakit jantung bisa mengintai.
UPF juga berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Banyak produk dalam kategori ini mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi, yang dapat mengganggu kerja insulin bila dikonsumsi secara berlebihan.
Dampaknya tak berhenti di sana. Rendahnya serat dalam UPF membuat sistem pencernaan bekerja kurang optimal. Di sisi lain, sejumlah bahan tambahan juga dinilai dapat memengaruhi keseimbangan bakteri baik di usus.
Dalam jangka panjang, beberapa kajian bahkan menemukan hubungan antara konsumsi UPF dan peningkatan risiko kanker. Dugaan ini berkaitan dengan bahan kimia tambahan serta proses pengolahan pada suhu tinggi.
Meski kerap dicap negatif, UPF sebenarnya masih boleh dikonsumsi. Dalam pola makan yang seimbang, makanan ini bisa menjadi bagian kecil dari menu harian, terutama saat seseorang membutuhkan kepraktisan atau berada dalam situasi terbatas waktu.
Para ahli gizi tetap menyarankan agar masyarakat lebih banyak memilih makanan segar atau yang minim proses. UPF sebaiknya hanya menjadi pelengkap, bukan sumber utama nutrisi. Memilih produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang lebih rendah juga dinilai sebagai langkah yang lebih bijak.

