Jakarta – Rencana Indonesia menerima hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi (C551) dari Italia memantik kewaspadaan Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin. Ia meminta pemerintah tidak melihat tawaran itu sekadar sebagai kapal perang “gratis”, karena di baliknya ada konsekuensi biaya dan teknis yang dinilai besar.
Parlemen Italia, pada 28 April 2026, telah menyetujui langkah pemerintahnya untuk menghibahkan kapal induk tersebut kepada Indonesia. Kebijakan itu disebut sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral sekaligus menghindari ongkos pembongkaran aset yang sudah menua.
TB Hasanuddin mengingatkan bahwa dalam pengadaan alat utama sistem senjata, istilah kapal gratis sering kali menyesatkan. “Dalam pengadaan militer ada pepatah yang relevan: tidak ada yang lebih mahal daripada kapal gratis. Karena itu, keputusan ini harus dikaji secara menyeluruh, tidak hanya dilihat dari nilai hibahnya,” ujarnya dalam keterangan kepada Parlementaria, Selasa (5/5/2026).
Sorotan utamanya tertuju pada biaya perawatan. Mengacu pada laporan The National Interest yang baru dirilis, Angkatan Laut Italia disebut menghabiskan sekitar 5 juta euro atau setara Rp101 miliar per tahun untuk merawat kapal itu. Jika kapal dibongkar, biayanya diperkirakan mencapai 19 juta euro atau sekitar Rp387 miliar.
“Angka ini tentu akan menjadi beban baru bagi anggaran pertahanan Indonesia, di luar kebutuhan biaya operasional lainnya,” kata TB Hasanuddin.
Selain biaya, usia kapal juga menjadi perhatian. Giuseppe Garibaldi telah bertugas sejak 1985, sehingga kini usianya mendekati 40 tahun. Menurut TB Hasanuddin, umur tersebut sudah berada pada batas umum masa pakai kapal perang yang biasanya berkisar 30 sampai 40 tahun.
Politikus PDI-Perjuangan itu menilai kapal tersebut sejatinya sudah mendekati penghujung masa operasional. Kalaupun diperbaiki, ia memperkirakan pemakaian tambahan paling lama hanya sekitar 10 tahun, dengan ongkos modernisasi yang tidak kecil.
Ia menjelaskan, biaya itu mencakup pembaruan radar, sistem komunikasi, persenjataan, pengadaan suku cadang, hingga pelatihan kru. “Hal ini berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran pertahanan dalam jangka menengah,” ujar purnawirawan TNI tersebut.
TB Hasanuddin juga menggarisbawahi persoalan interoperabilitas. Kapal induk Giuseppe Garibaldi dirancang untuk mengoperasikan pesawat tempur STOVL AV-8B Harrier II, sementara armada udara Indonesia saat ini memakai F-16, Sukhoi, dan Rafale.
Menurut dia, penggunaan Harrier II memiliki banyak keterbatasan karena hanya dioperasikan oleh sedikit negara dan dalam waktu dekat akan dipensiunkan Amerika Serikat. Kondisi itu, kata dia, berisiko menyulitkan ketersediaan suku cadang serta dukungan logistik.
Karena itu, ia meminta pemerintah bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa. “Kita harus cermat memastikan bahwa setiap pengadaan alutsista benar-benar sesuai kebutuhan strategis dan berkelanjutan. Jangan sampai terlihat menguntungkan di awal, tetapi justru menjadi beban di kemudian hari,” tegasnya.

