NEW YORK – Harga minyak dunia mulai mengalami koreksi setelah sempat melonjak tajam akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Pada perdagangan hari ini, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 1,98 persen ke level US$104,23 per barel.
Penurunan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar pasca keberhasilan Amerika Serikat menggagalkan serangan Iran dan mengawal dua kapal berbendera AS yang melintasi Selat Hormuz. Pemerintah AS menegaskan komitmennya untuk melindungi seluruh kapal komersial dari ancaman drone maupun serangan perahu kecil yang dikerahkan oleh Teheran.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab melaporkan telah berhasil mencegat rudal Iran. Meski demikian, pihak berwenang mengonfirmasi adanya insiden kebakaran di terminal minyak Fujairah, yang merupakan infrastruktur vital bagi distribusi energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah menguraikan rencana strategis untuk memulihkan jalur pengiriman di Selat Hormuz serta memberikan perlindungan bagi kapal-kapal yang sempat terjebak di kawasan tersebut. Meski ada upaya pengamanan, para pemilik kapal tetap bersikap waspada karena tingginya risiko keamanan di wilayah perairan tersebut.
Hingga saat ini, pasar menilai ketegangan di Selat Hormuz belum sepenuhnya berakhir. Gangguan distribusi energi diprediksi masih mungkin terjadi hingga tercapai kesepakatan antara Washington dan Teheran, yang membuat para pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap potensi lonjakan harga energi di masa depan.
Sebelumnya, harga minyak dunia sempat menyentuh level tertinggi sejak 2022. Kontrak berjangka Brent crude oil bahkan sempat menembus US$120,94 per barel pada 30 April 2026, sebelum akhirnya terkoreksi ke kisaran US$113 per barel pada penutupan hari yang sama.
Secara fundamental, tekanan harga minyak juga didorong oleh penurunan tajam cadangan minyak di Amerika Serikat serta lonjakan ekspor yang menembus angka 6 juta barel per hari. Kondisi ini mempertegas ketatnya pasokan global di tengah gangguan distribusi energi yang berkepanjangan.
Dinamika global ini juga berdampak pada harga minyak mentah Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Indonesian Crude Price (ICP) pada Maret 2026 menyentuh level US$102,26 per barel. Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam satu tahun terakhir dan jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang dipatok di angka US$70 per barel.

