Timika – Anak muda Papua diminta tidak sekadar menyaksikan berbagai persoalan di daerah, tetapi turun langsung menjadi bagian dari solusi dan penggerak perubahan. Pesan itu disampaikan Prayoga saat berbicara dalam Diskusi Publik “Suara Anak Muda Papua” bertema “Merawat Damai, Menguatkan Demokrasi, Menjemput Masa Depan yang Setara” di Rest Area Coffee Shop, Timika, Kamis, 25 Juni 2026.
Prayoga menilai Papua memiliki bekal besar untuk melaju lebih jauh. Ia menyebut kekayaan sumber daya alam, keragaman budaya, dan potensi generasi muda sebagai modal utama yang harus dikelola bersama.
Meski begitu, ia mengingatkan masih banyak persoalan yang belum tuntas. Ketimpangan pembangunan, akses pendidikan yang belum merata, tingginya angka pengangguran, hingga minimnya keterlibatan anak muda dalam ruang pengambilan keputusan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Anak muda Papua bukan hanya pewaris masa depan, tetapi penentu arah perubahan hari ini,” ujar Prayoga dikutip Sabtu, 27 Juni 2026. Karena itu, menurut dia, generasi muda perlu hadir melalui gagasan, inovasi, dan tindakan nyata.
Ia menegaskan, kemajuan Papua tidak bisa hanya disandarkan pada kebijakan pemerintah. Partisipasi aktif anak muda, kata dia, juga dibutuhkan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, organisasi sosial, kewirausahaan, hingga pengawasan terhadap kebijakan publik.
Dalam pandangannya, perdamaian di Papua harus dimaknai sebagai hadirnya rasa aman, keadilan, dan saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat. Ia pun mendorong anak muda menjadi perekat persatuan lewat dialog, musyawarah, dan semangat kebersamaan saat menyelesaikan persoalan sosial.
Prayoga juga menyerukan penolakan terhadap politik kebencian, provokasi, dan narasi yang memecah belah masyarakat. Menurut dia, keberagaman Papua semestinya menjadi kekuatan untuk membangun daerah, bukan sumber perpecahan.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan generasi muda. Media sosial, kata Prayoga, seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang edukatif, optimistis, dan membangun, bukan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, maupun disinformasi yang dapat mengganggu harmoni sosial.
Terkait demokrasi, ia menegaskan bahwa keterlibatan politik anak muda tidak cukup berhenti pada penggunaan hak pilih saat pemilu. Generasi muda juga perlu aktif mengawal jalannya pemerintahan melalui kritik yang objektif, santun, dan disertai solusi agar kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Suara anak muda harus menjadi suara perubahan,” katanya. Kritik, menurut dia, tidak boleh berhenti pada penolakan, tetapi harus menghadirkan gagasan yang mendorong perbaikan dan kemajuan Papua.
Prayoga berharap semakin banyak anak muda Papua tampil sebagai pemimpin, akademisi, pengusaha, peneliti, maupun aktivis sosial. Dengan begitu, kualitas sumber daya manusia Papua bisa menguat dan pembangunan yang inklusif, adil, serta berkelanjutan dapat lebih cepat terwujud.
“Papua membutuhkan generasi muda yang mampu menjadi penjaga perdamaian, penguat demokrasi, dan motor penggerak pembangunan. Masa depan Papua akan ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini,” tutupnya.

