Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,28 persen dan ditutup di level 7.768 pada perdagangan kemarin. Penurunan ini dipicu oleh reshuffle kabinet, khususnya pergantian Menteri Keuangan, yang dinilai pasar menimbulkan ketidakpastian kebijakan.
Aksi jual asing masif tercatat mencapai Rp 543 miliar. Saham-saham big cap seperti BBCA (Rp 1,2 triliun) dan BMRI (Rp 362 miliar) menjadi yang paling terdampak.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pergantian Sri Mulyani dengan Purbaya Yudhi Sadewa menciptakan “policy uncertainty” di mata investor. Hilangnya figur Sri Mulyani, yang dikenal memiliki kredibilitas fiskal tinggi, meninggalkan kekosongan kepercayaan.
Meskipun Purbaya memiliki rekam jejak ekonomi yang panjang, pasar tetap membandingkannya dengan reputasi global pendahulunya. Untuk mengatasi hal ini, Hendra menekankan pentingnya pemerintah menjaga disiplin fiskal, mengomunikasikan arah defisit APBN secara transparan, dan memastikan keberlanjutan kebijakan makro yang pro pasar.
Pemerintah juga perlu meyakinkan publik bahwa reshuffle merupakan strategi penguatan kabinet, bukan sinyal pelemahan fundamental. Komitmen menjaga stabilitas fiskal, proyek strategis nasional, dan koordinasi dengan Bank Indonesia menjadi kunci meredakan gejolak. Tanpa komunikasi yang kuat, risiko arus keluar dana asing akan terus membayangi.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih volatil di kisaran 7.670-7.840 dalam jangka pendek, mengingat September secara historis merupakan periode weak seasonality. Rupiah diperkirakan melemah ke Rp 16.400–16.600 per dollar AS, menunggu kepastian arah kebijakan fiskal. Namun, komunikasi yang efektif dari pemerintah dan Menkeu baru, serta sentimen eksternal positif, berpotensi meredakan tekanan dalam beberapa minggu ke depan.
Presiden Prabowo Subianto melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan pada Senin (8/9/2025), menggantikan Sri Mulyani Indrawati berdasarkan Keppres Nomor 86P Tahun 2025.

