JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (8/10/2026), setelah sehari sebelumnya terkoreksi akibat kombinasi sentimen eksternal yang belum mereda. Kenaikan harga minyak dunia, imbal hasil US Treasury, dan penguatan dolar Amerika Serikat menjadi faktor yang terus membatasi ruang penguatan pasar saham domestik.
Tekanan itu sudah terlihat pada perdagangan Rabu (7/10), saat IHSG ditutup turun 0,75 persen ke level 6.146,72. Pelemahan tersebut sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang ikut tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah dunia setelah serangan Houthi mengganggu jalur distribusi energi di Timur Tengah.
Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi energi. Di saat bersamaan, indeks dolar AS atau DXY yang menguat ikut memberi tekanan pada mata uang Asia, termasuk rupiah.
“Tekanan eksternal masih menjadi risiko utama IHSG,” ujar Herditya.
Ia menambahkan, pasar pada perdagangan Kamis akan memantau arah pergerakan harga energi global serta risalah rapat The Federal Reserve atau FOMC minutes untuk membaca kemungkinan langkah suku bunga AS berikutnya. Dengan kondisi tersebut, Herditya menilai IHSG masih rawan melanjutkan pelemahan dengan support di 6.134 dan resistance di 6.156.
Meski begitu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda melihat IHSG masih punya peluang rebound secara teknikal. Hanya saja, penguatan itu belum sepenuhnya terkonfirmasi karena yield US Treasury masih meningkat dan indikator MACD belum menunjukkan sinyal bullish secara penuh.
Di luar tekanan global, pergerakan IHSG juga dipengaruhi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang terlibat dalam transaksi di pasar negosiasi. Dari sisi lain, pasar menerima sentimen positif setelah FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging market.
Dukungan sentimen juga datang dari cadangan devisa Indonesia yang tetap solid di level US$ 146,3 miliar pada September 2026. Angka itu memang sedikit turun dari US$ 146,5 miliar pada Agustus, tetapi masih dipandang menopang kepercayaan pasar.
Reza memperkirakan IHSG bergerak di area support 6.100-6.120 dengan resistance sekaligus area gap di 6.200-6.240. Sementara itu, Herditya menyarankan pelaku pasar mencermati saham DEWA pada rentang Rp 380-Rp 396 per saham, HRTA di Rp 2.250-Rp 2.300, serta TLKM di Rp 2.400-Rp 2.460 per saham.


