Jakarta – Di tengah derasnya rumor aksi korporasi dan volatilitas pasar, investor diminta semakin disiplin menjadikan keterbukaan informasi resmi serta kekuatan fundamental emiten sebagai acuan utama sebelum mengambil keputusan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menekankan bahwa setiap kabar material perlu ditelusuri dari sumber perusahaan yang sahih. Menurut dia, rumor yang beredar di pasar kerap memengaruhi persepsi investor, sehingga konfirmasi resmi menjadi pembeda penting antara fakta dan spekulasi.
“Investor perlu membedakan informasi material yang telah dikonfirmasi dengan spekulasi pasar,” kata Nafan dalam keterangan resmi, Rabu (30/9).
Ia mengingatkan, kehati-hatian juga diperlukan saat membaca aktivitas perdagangan di bursa. Tidak semua transaksi besar otomatis berkaitan dengan aksi korporasi tertentu. Karena itu, investor sebaiknya melihat siapa pihak yang bertransaksi, berapa harga dan volumenya, serta apakah ada keterbukaan informasi yang mendukung, bukan semata-mata menyoroti nilai agregat transaksi.
Nafan juga menyarankan investor menggabungkan sejumlah sumber informasi sebelum menyimpulkan kondisi sebuah perusahaan. Dengan memadukan data resmi dan kinerja fundamental emiten, pelaku pasar dapat menempatkan sentimen pasar secara lebih utuh.
Bagi dia, fundamental tetap menjadi indikator utama untuk menilai sehat tidaknya perusahaan, terutama bagi investor yang mengincar saham perbankan. Ia menilai pertumbuhan kredit, profitabilitas, kualitas aset, dan dana murah masih menjadi parameter penting untuk melihat daya tahan sebuah bank di tengah tekanan ekonomi dan fluktuasi pasar.
Salah satu emiten yang belakangan ramai dibicarakan adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Nama bank swasta terbesar itu sempat terseret rumor akan diakuisisi pengusaha asal Kalimantan, Haji Isam, sehingga menarik perhatian investor.
Namun, dari sisi kinerja, Nafan menyebut BCA masih menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada semester I 2026, perseroan membukukan laba bersih Rp29,5 triliun. Dalam periode yang sama, penyaluran kredit naik 8 persen secara tahunan menjadi Rp1.036 triliun.
Ia juga menyoroti struktur pendanaan BCA yang dinilai sehat. Porsi dana murah atau current account saving account (CASA) mencapai 84,3 persen dari total dana pihak ketiga. Hingga paruh pertama 2026, CASA BCA tumbuh 10,2 persen menjadi Rp1.082 triliun. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 1,9 persen, sedangkan loan at risk (LAR) tercatat 4,9 persen.
Kinerja itu melanjutkan tren positif beberapa tahun terakhir. Pada 2024, laba bersih BCA tercatat Rp54,8 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Setahun kemudian, labanya naik lagi 4,9 persen menjadi Rp57,5 triliun. Pertumbuhan tersebut diiringi peningkatan penyaluran kredit dari Rp922 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp993 triliun pada akhir 2025.
Selain kinerja keuangan, BCA juga rutin melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan sebelumnya menyatakan akan menjalankan buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun dalam periode 12 Maret 2026 sampai 11 Maret 2027.
Menurut Nafan, buyback menjadi salah satu langkah manajemen untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap prospek perusahaan.
“Ini sebagai salah satu mekanisme stabilisasi dan bentuk pengelolaan modal yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor ketika volatilitas meningkat,” ujarnya.


