IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

IHSG Tertekan Sentimen Global, Analis Tegaskan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di layar monitor bursa efek
IHSG mengalami tekanan akibat sentimen global meskipun fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat.

Jakarta, Gonesia.com – Fundamental ekonomi Indonesia yang kokoh dinilai menjadi bantalan utama di tengah tekanan berat yang mendera Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2026.

Senior Analyst Bursa Efek Indonesia (BEI), Fikrian Naufal, menyatakan bahwa koreksi pasar saat ini murni dipicu oleh sentimen eksternal dan dinamika jangka pendek, bukan akibat pelemahan ekonomi domestik.

Ia menyebutkan bahwa ketegangan geopolitik global serta kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat menjadi beban utama bagi pasar modal tanah air.

Salah satu perhatian utama tertuju pada gangguan di jalur distribusi energi dunia yang berdampak langsung terhadap stabilitas harga.

“Selat Hormuz itu memegang sekitar 20% jalur minyak global, jadi ketika terganggu, dampaknya langsung terasa ke inflasi global, termasuk ke Indonesia,” ujarnya dalam agenda Media Connect yang digelar PT Samuel Sekuritas Indonesia, Jumat (7/8/2026).

5 Strategi OJK Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat 2026

Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat memicu arus keluar modal asing dari negara berkembang.

Ia menambahkan, “Yield US Treasury yang masih tinggi ini membuat dana asing cenderung kembali ke negara maju. Jadi outflow yang terjadi sekarang itu sifatnya akumulatif dari berbagai sentimen.”

Tekanan ini semakin terasa seiring dengan respons Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 basis poin menjadi 5,75% sejak Mei hingga Juni 2026.

Langkah tersebut diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global.

“BI sudah menaikkan suku bunga cukup agresif untuk menahan pelemahan rupiah. Ini langkah yang memang perlu, meskipun ada konsekuensi ke pertumbuhan,” lanjutnya.

OJK Ingatkan Penyelenggara Pindar Mitigasi Risiko Manipulasi Identitas Berbasis AI

Data mencatat arus keluar dana asing (outflow) mencapai Rp72 triliun sepanjang tahun berjalan.

IHSG sempat mengalami koreksi signifikan setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi di level 9.134,80 pada Januari 2026.

Namun, ia menegaskan bahwa indikator ekonomi makro Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang impresif.

“Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5%, inflasi terjaga, dan indikator perbankan seperti NPL juga relatif rendah,” tuturnya.

Selain itu, cadangan devisa per Juni 2026 mencapai US$145,59 miliar yang memberikan rasa aman bagi stabilitas sektor keuangan.

Telkom Lakukan Spin-off InfraCo Tahap II Senilai Rp 49,86 Triliun

Kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia juga tetap solid dengan mayoritas perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal pertama tahun ini.

“Earnings perusahaan itu sebenarnya masih tumbuh. Jadi kondisi sekarang lebih ke tekanan sentimen jangka pendek, bukan karena fundamental yang memburuk,” imbuhnya.

Ia menilai penurunan harga saham saat ini justru menciptakan peluang bagi investor karena valuasi yang menjadi lebih menarik.

“Kalau dilihat sekarang, harga saham sudah turun tapi kinerja laba masih bagus. Artinya secara valuasi kita sedang berada di level yang relatif diskon,” katanya.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan di BEI justru mencatatkan pertumbuhan pesat di tengah guncangan pasar.

Nilai transaksi hingga Juli 2026 meningkat 24,6% secara year-to-date, sementara frekuensi transaksi melonjak 41,9% dan volume transaksi naik 30,3%.

Jumlah investor pasar modal kini menembus angka 30,06 juta per Juli 2026, dengan investor saham mencapai 10,03 juta.

“Ini menunjukkan market kita masih likuid di tengah volatilitas. Aktivitas investor tetap tinggi, terutama dari ritel,” jelasnya.

Ia menyimpulkan bahwa pasar domestik tetap memiliki daya tahan yang kuat menghadapi turbulensi global.

“Jadi meskipun market sempat terkoreksi cukup dalam, dari sisi fundamental ekonomi dan kinerja perusahaan sebenarnya masih cukup solid,” pungkasnya.

Komentar