IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Laba PGEO Naik 15% di Semester I-2026, Begini Prospek Sahamnya

Gedung kantor PT Pertamina Geothermal Energy Tbk dengan logo perusahaan yang terlihat jelas.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk membukukan kenaikan laba bersih sebesar 15,46% pada semester I-2026.

JAKARTA, Gonesia.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026 dengan mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$ 79,62 juta.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 15,46% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pencapaian laba ini didukung oleh peningkatan pendapatan perusahaan sebesar 14,73% menjadi US$ 235,03 juta hingga akhir Juni 2026.

Kontribusi terbesar terhadap pendapatan berasal dari sektor penjualan uap dan listrik yang mencapai US$ 225,72 juta.

Selain itu, perusahaan juga berhasil mengantongi pendapatan tambahan melalui production allowance kepada pihak ketiga senilai US$ 9,31 juta.

Bos GOTO Tanggapi Dampak Komisi 8% Terhadap Kinerja Perusahaan

Meskipun pendapatan meningkat, beban pokok dan beban langsung lainnya juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 24,26% menjadi US$ 104,59 juta.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai kinerja positif tersebut didorong oleh operasional proyek panas bumi yang berjalan penuh.

Dia menambahkan bahwa kontrak Power Purchasing Agreement (PPA) dengan PLN yang berbasis dolar AS memberikan keuntungan natural hedging bagi emiten tersebut.

“Pendapatan dalam dolar AS terjaga, sedangkan sebagian biaya operasional dalam rupiah justru relatif lebih murah. Ini keuntungan struktural PGEO yang sering luput dari apresiasi,” ungkap dia.

Menurutnya, prospek perusahaan pada semester II-2026 tetap konstruktif berkat visibilitas arus kas yang stabil dari kontrak jangka panjang.

Pendapatan Astra Agro Lestari (AALI) Naik 5,62% di Semester I 2026

Ia menjelaskan bahwa dukungan dari Grup Pertamina turut memberikan akses pendanaan yang lebih kompetitif bagi PGEO.

Selain itu, permintaan energi panas bumi dari sektor data center diproyeksikan menjadi pendorong pertumbuhan baru bagi perusahaan ke depan.

Namun, Wafi mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga Bank Indonesia berpotensi meningkatkan biaya pendanaan (cost of fund) di tengah kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang tinggi.

Dia menegaskan bahwa PGEO harus menjaga disiplin eksekusi capex karena sektor panas bumi memiliki risiko tinggi pada proses pengeboran.

“PGEO perlu pertahankan rasio hedging yang optimal antara pendapatan dolar AS dan struktur biaya rupiah,” imbuh dia.

KPPU Awasi Persaingan Usaha Pasca Putusan MK Soal Kuota Internet

Di sisi lain, Research Analyst MNC Sekuritas Christian Sitorus tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PGEO dengan target harga di level Rp 1.540 per saham.

Proyeksi tersebut didasarkan pada valuasi enterprise value (EV)/EBITDA yang dipatok pada level 7,6 kali untuk tahun 2026.

“Sikap positif kami didukung oleh pendapatan berulang yang tangguh, faktor kapasitas yang konsisten tinggi, dan visibilitas pertumbuhan jangka panjang yang meningkat yang didukung oleh basis sumber daya PGEO sebesar 3 gigawatt (GW),” pungkas dia dalam risetnya.

Secara keseluruhan, para analis memandang PGEO sebagai salah satu emiten energi terbarukan yang paling defensif di pasar modal Indonesia saat ini.

Komentar