Jakarta, Gonesia.com – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menegaskan bahwa keunggulan tarif impor sebesar 2,5 poin persentase di pasar Amerika Serikat tidak menjamin produk furnitur nasional otomatis mengungguli negara pesaing.
Kebijakan tarif baru yang resmi berlaku sejak 24 Juli 2026 ini menempatkan Indonesia pada posisi tarif tambahan 10 persen, sementara Vietnam dan Thailand dikenakan tarif lebih tinggi sebesar 12,5 persen.
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, dalam wawancara bersama Katadata, Rabu (29/7), menyatakan bahwa selisih tarif tersebut belum cukup untuk menjamin kemenangan Indonesia di pasar global.
Ia menekankan bahwa daya saing industri furnitur di pasar Amerika Serikat sangat bergantung pada banyak faktor di luar tarif bea masuk.
“Produk Indonesia masih kompetitif, tetapi tidak boleh merasa aman. Daya saing furnitur tidak hanya ditentukan tarif, melainkan juga harga pabrik, produktivitas, biaya logistik, lead time, konsistensi kualitas, desain, kapasitas produksi, dan kepastian pengiriman,” kata Abdul.
Menurutnya, pembeli di Amerika Serikat cenderung menghitung total biaya landed cost hingga barang tiba di gudang.
Komponen biaya tersebut mencakup tarif dasar, tarif tambahan, biaya pengiriman, biaya inventori, hingga risiko keterlambatan pengiriman.
Ia menyebutkan bahwa keunggulan tarif 2,5 poin persentase tersebut tidak serta-merta membuat Indonesia lebih kompetitif.
“Selisih 2,5 poin itu belum otomatis membuat Indonesia lebih unggul,” ujarnya.
Data COMTRADE dan ITC tahun 2024 menunjukkan tantangan besar bagi Indonesia untuk menandingi dominasi negara lain.
Vietnam saat ini tercatat sebagai eksportir furnitur terbesar kedua di dunia dengan nilai ekspor mencapai US$17,61 miliar.
Sementara itu, Indonesia masih tertahan di peringkat ke-21 dengan nilai ekspor furnitur sebesar US$1,91 miliar.
Thailand berada di posisi ke-25 dengan nilai ekspor furnitur mencapai US$1,33 miliar.
Abdul menjelaskan bahwa Vietnam memiliki keunggulan komparatif yang jauh lebih matang dibandingkan Indonesia.
Negara tersebut unggul dari sisi skala industri, produktivitas, jaringan pemasok yang luas, serta akses logistik yang lebih efisien.
Selain itu, hubungan dagang antara produsen Vietnam dengan pembeli di Amerika Serikat dinilai sudah sangat kuat.
Kondisi tersebut membuat selisih tarif 2,5 poin persentase dapat terhapus dengan mudah jika biaya produksi dan logistik Indonesia tidak segera dibenahi.
Ia mendorong pelaku usaha untuk mengonversi keunggulan tarif ini menjadi daya tawar yang lebih nyata di mata pembeli internasional.
“Jadi, keunggulan tarif ini harus segera dikonversi menjadi penawaran harga yang kompetitif, pelayanan lebih cepat, kepastian pasokan, dan kemampuan memenuhi standar pasar AS,” lanjutnya.
HIMKI optimistis bahwa Indonesia masih memiliki keunggulan khusus pada furnitur berbahan kayu, rotan, dan serat alam.
Produk kerajinan tangan dengan desain yang memiliki identitas kuat menjadi nilai tambah yang tidak mudah digantikan oleh negara lain.
Namun, ia mengingatkan bahwa persaingan akan jauh lebih ketat untuk kategori produk standar yang mudah diproduksi massal oleh negara pesaing.
Pemerintah dan pelaku industri perlu meningkatkan efisiensi produksi untuk mempertahankan momentum di pasar Amerika Serikat.
“Tarif 10% merupakan tekanan nyata, tetapi juga memberikan keunggulan relatif karena sejumlah pesaing dikenai 12,5%. Kesempatan tersebut tidak akan otomatis menjadi pesanan,” tegas Abdul.


